Minggu, 25 Juli 2021

Laoran baca Ahmad

 Bismillah assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Kali ini saya akan menuliskan tentang perangkat pembelajaran. Semoga kita sama-sama mendapatkan ilmu dari apa yang akan saya tulis.

Perangkat pembelajaran

Perangkat pembelajaran merupakan suatu perangkat yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran yang berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif ( Poppy Kamalia Devi, dkk, 2009: 1-5 ).

Berangkat pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses belajar mengajar dapat berupa : silabus, rencana pembelajaran ( RPP ), lembar kegiatan siswa ( LKS ), dan modul.

 a). Silabus

sebut juga kan rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi Dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar ( Trianto, 2010:96 ).

Langkah-langkah pengembangan silabus ( Trianto, 2010:99 )

1. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar

Mengkaji SK dan KD mata pelajaran sebagaimana tercantum pada standar isi.

2. Mengidentifikasi materi pokok atau pembelajaran.

Mengidentifikasi materi pokok ada pelajaran yang menunjang pencapaian KD.

3. Mengembangkan kegiatan pembelajaran

kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik dalam rangka pencapaian KD.

4. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian KD. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5. Menentukan jenis penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar siswa dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan test dalam bentuk tertulis.

6. Menentukan alokasi waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu. Alokasi waktu merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh siswa yang beragam.

7. Menentukan sumber belajar

Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serta materi pokok atau pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

 

b. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai KD yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan dalam silabus.

berdasarkan peraturan pemerintah republik indonesia nomor 19 tahun 2005 pasal 20 dinyatakan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.

Menurut permendiknas nomor 41 tahun 2007, komponen RPP adalah : identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar

Langkah-langkah menyusun RPP permendiknas nomor 41 tahun 2007 :

1) menuliskan identitas mata pelajaran yang meliputi : sekolah, mata pelajaran, tema, kelas / semester, alokasi waktu.

2) menuliskan standar kompetensi

SK merupakan kualifikasi kemampuan minimal siswa yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada suatu mata pelajaran.

3) menuliskan kombinasi dasar

KD adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi.

4) menuliskan indikator pencapaian kompetensi

indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan atau di observasi untuk menunjukkan ke tercapai and kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.

5) merumuskan tujuan pembelajaran

tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah ditentukan.

6) materi ajar

Materi ajar membuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk peta konsep sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi

7) alokasi waktu

Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar

8) menentukan metode pembelajaran

metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa mencapai KD atau indikator yang telah ditetapkan.

9) merumuskan kegiatan pembelajaran

a) pendahuluan

Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam satu pertemuan pembelajaran yang ditunjukkan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

b) inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta si psikologi siswa. Kegiatan inti ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.

Menurut nursyam pada tahun 2009: 1 eksplorasi adalah kegiatan pembelajaran yang didesain agar tercipta suasana kondusif yang memungkinkan siswa dapat melakukan aktivitas fisik yang memaksimalkan penggunaan panca indra dengan berbagai cara, media, dan pengalaman yang bermakna dalam menentukan ide, gagasan, konsep, dan/atau prinsip sesuai dengan kompetensi mata pelajaran. selebrasi adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan peserta didik mengembangkan ide, gagasan, dan kreasi dalam mengekspresikan konsepsi kognitif melalui berbagai cara baik lisan maupun tulisan sehingga timbul kepercayaan diri yang tinggi tentang kemampuan dan ekstensi dirinya. konfirmasi adalah kegiatan pembelajaran yang diperlukan agar konsepsi kognitif yang di konstruksi kan dalam kegiatan eksplorasi dan elaborasi dapat di yakinkan dan diperkuat sehingga timbul motivasi yang tinggi untuk mengembangkan kegiatan eksplorasi dan elaborasi lebih lanjut.

c) penutup

penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

10) penilaian hasil belajar

prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu pada standar penilaian.

11) menentukan media atau alat atau bahan atau sumber belajar.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serita materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

rencana pelaksanaan pembelajaran yang dimaksud dalam penilaian ini adalah rencana pelaksanaan yang berorientasi pembelajaran terpadu dengan menentukan model cooperative learning tipe STAD yang menjadi pedoman bagi guru dalam proses belajar mengajar.

Menurut Trianto ( 2010: 108) secara umum dalam mengembangkan RPP harus berpedoman pada prinsip pengembangan RPP, yaitu sebagai berikut :

1) kompetensi yang direncanakan dalam RPP harus jelas, konkret, dan mudah dipahami.

 2) RPP harus sederhana dan fleksibel.

3) RPP yang dikembangkan sifatnya menyeluruh, utuh, dan jelas pencapaian nya.

4) harus koordinasi dengan komponen pelaksanaan program sekolah, agar tidak mengganggu jam pelajaran yang lain.

 

C. Lembar kerja siswa (LKS)

Lembar kerja siswa (LKS) adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. gambar kerja siswa dapat berupa panduan untuk pelatihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi. LKS memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh ( Trianto, 2010: 111).

Andi Prastowo (2011: 205-206) menyatakan bahwa 4 fungsi LKS yaitu :

1. Meminimalkan perang guru, tetapi maksimalkan peran siswa.

2. Memudahkan siswa untuk memahami materi yang diberikan.

3. Ringkas dan kaya tugas untuk berlatih.

4. Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa.

Menurut Poppy Kamila Devi, dkk, (2009:32-33) sistematika LKS umumnya terdiri dari :

1. Judul LKS

2. Pengantar

Berisi uraian singkat bahan pengajar ( berupa konsep-konsep IPA ) yang di cukup dalam kegiatan. selain itu juga memberikan pertanyaan atau masalah yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk memancing kemampuan berpikir siswa dan diharapkan siswa dapat memecahkan masalah tersebut dengan melakukan kegiatan.

3. Tujuan kegiatan

berisik kompetensi yang harus dicapai siswa setelah melakukan percobaan. tujuan pembelajaran di rinci pada masing-masing kegiatan.

4. Alat dan bahan

Membuat alat dan bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan

5. Langkah kegiatan

Langkah kegiatan berisi sejumlah langkah cara pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan siswa.

Ahmad Aldi Yanto

 MENEJEMEN SEKOLAH

Menurut definisi manajemen berbasis sekolah (Purwanto, 2008), manajemen sekolah ontologi memiliki arti yang sama dengan manajemen pendidikan. Setiap orang memiliki kesamaan yang tidak bisa dibedakan. Terutama ruang lingkup manajemen pendidikan juga ruang lingkup manajemen sekolah. Sekali lagi, proses bekerja melalui fungsi yang sama. Beroperasinya organisasi sekolah adalah karena filosofi manajemen yang terstruktur. Manajemen organisasi sekolah dikenal juga dengan manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan juga diartikan sebagai administrasi pendidikan. Manajemen pendidikan adalah keseluruhan proses meninggalkan dan mengintegrasikan semua pribadi, spiritual dan material yang berkaitan dengan terwujudnya tujuan pendidikan. Seperti yang dijelaskan oleh James Jr. (2007: 14) Dijelaskannya bahwa manajemen sekolah merupakan proses yang efektif dalam memberdayakan pengelola sekolah dengan sumber daya manusia.
Sama dengan James, Ali Imron Sauki (2014:104) juga berpendapat bahwa manajemen pendidikan merupakan proses tertatanya lembagaan pendidikan, dengan melibatkan potensi-potensi baik yang bersifat manusia ataupun yang bersifat non manusia demi memperoleh tujuan pendidikan dengan efektif dan efisien.
Kesimpulannya adalah manajemen atau pengelolaan adalah komponen integral dan tidak bisa dipisahkan dari suatu proses pendidikan secara menyeluruh.
Pengertian Manajemen Sekolah bermutu adalah terjemahan dari “school-based management”. Manajemen sekolah yang bermutu merupakan paradigma pendidikan baru yang memberikan otonomi luas di tingkat sekolah (partisipasi masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto menjelaskan bahwa manajemen sekolah yang berkualitas merupakan pilihan baru dalam manajemen pendidikan saat ini, yang menekankan pada kreativitas dan kemandirian sekolah. Nurcholis mengatakan bahwa karena desentralisasi pendidikan, manajemen sekolah yang berkualitas adalah bentuk lain dari sekolah. Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan mendorong partisipasi secara langsung dengan melibatkan seluruh warga sekolah (pendidik, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, dan masyarakat). dirumuskan untuk meningkatkan mutu sekolah sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional.
Lebih lanjut untuk istilah manajemen sekolah itu sendiri seringkali disamakan dengan administrasi sekolah. Terkait dengan itu, dai bebeapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa; pertama, mendefinisikan administrasi secara luas dari pada manajemen (manajemen adalah inti sari dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas jika dibandingkan dengan administrasi (administrasi adalah inti sari dari manajemen); dan ketiga yang berpandangan bahwa manajemen sama halnya dengan administrasi.
Berdasarkan fungsi utamanya, istilah manajemen dan administrasi memiliki fungsi yang sama, yaitu: 1. Merencanakan (planning), 2. mengorganisasikan (organizing), 3. mengarahkan (directing), 4. mengkoordinasikan (coordinating), 5. mengawasi (controlling), 6. dan mengevaluasi (evaluation). Adapun Tujuan Manajemen Sekolah yang Bermutu secara umum, secara berikut:
a. Mutu pendidikan yang memiliki kualitas yaitu melalui kemandirian sekolah serta
b. sinergi warga sekolah dan masyarakat yang baik dalam menyelenggarakan pendidikan dengan bermusyawarah.
c. Meningkatkan tanggung jawab  sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah mengenai mutu sekolah. 
d. kompetisi mutu sekolah yang sehat untuk menilai mutu pendidikan yang menyesuaikan dengan perkembangan saat ini.

A. Prinsip Manajemen Sekolah
Perkembangan sebuah sekolah membutuhkan teori dan konsep yang matang dan terencana untuk mengelola sekolah tersebut. Pembangunan didasarkan pada empat prinsip, yaitu:
1. Equifinality: Prinsip ini didasarkan pada teori modern dan mengasumsikan bahwa ada beberapa cara berbeda untuk mencapai tujuan. Manajemen sekolah yang berkualitas menekankan pada fleksibilitas. Oleh karena itu, sekolah harus mandiri dan mengelola segala kegiatan bersama warga sekolah sesuai dengan keadaan masing-masing. Karena kompleksitas uraian tugas sekolah saat ini dan perbedaan yang signifikan antar sekolah, contoh spesifiknya adalah perbedaan input siswa, infrastruktur, dan kondisi akademik sekolah.Tidak mungkin sekolah beroperasi dalam struktur yang sama di semua kota dan provinsi, apalagi Bicara tentang seluruh negeri. Pendidikan sebagai masyarakat sangat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan yang terus berkembang. Jadi tidak diragukan lagi bila sekolah akan mendapatkan berbagai masalah seperti halnya institusi umum lainya. Tantangan itu wajib dijawab secara tuntas oleh sekolah. Sekolah wajib mampu menyelesaikan berbagau problematika yang dihadapi menggunakan strategi yang paling tepat serta sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Meskipun sekolah lainnya bisa saja memiliki masalah yang sama, namun cara penyelesaiannya tidak akan  sama antara sekolah tersebut dengan sekolah yang lainnya.
2. Desentralisasi
Ini adalah fenomena penting dari reformasi manajemen sekolah modern. Asas desentralisasi sejalan dengan asas keadilan. Dasar teori bahwa pengelolaan sekolah dan kegiatan pengajaran tidak dapat menghindari kesulitan dan masalah menggambarkan prinsip desentralisasi. Pendidikan merupakan persoalan yang kompleks dan rumit, yang membutuhkan desentralisasi dalam proses pelaksanaannya. Prinsip keadilan yang dikedepankan sebelum promosi desentralisasi memungkinkan sekolah memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang dan berkarya, serta mengoperasikan dan mengelola sekolah secara efektif sesuai dengan strategi uniknya. Oleh karena itu, sekolah harus diberi kekuatan dan tanggung jawab untuk memecahkan masalah secepat mungkin ketika muncul. Dengan kata lain, tujuan dari prinsip desentralisasi adalah untuk memecahkan masalah secara efisien, bukan untuk menghindari masalah. Oleh sebab itu, manajemen sekolah bermutu wajib dapat menemukan masalah, menyelesaikannya tepat waktu dan memberi kontribusi yang lebih besar terhadap efektivitas pengajaran dan kegiatan pembelajaran.
3. Sistem manajemen diri (Self-Management System )

Manajemen sekolah yang berkualitas perlu mencapai tujuan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan, tetapi metode untuk mencapai tujuan berbeda. Administrator sekolah yang berkualitas harus menyadari pentingnya membiarkan sekolah menjadi sistem manajemen yang mandiri sesuai dengan kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki
tingkat otonomi tertentu, dan dapat merumuskan strategi pengelolaan, sumber daya manusia dan alokasi sumber daya lainnya serta tujuan pengajaran lainnya sesuai dengan sumber daya dan kemampuan manusianya sendiri, sesuai dengan kondisinya sendiri, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan. Karena sekolah dikelola secara mandiri, sekolah memiliki lebih banyak inisiatif dan tanggung jawab. Asas ini berkaitan dengan asas sebelumnya, yaitu asas keadilan dan asas desentralisasi. Sekolah menghadapi masalah dan harus menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Sekolah bisa menyelesaikan problematika yang dihadapi melalui pelimpahan wewenang dari birokrasi yang diatasi ke tingkat sekolah. Dengan adanya kewenangan tersebut pada tingkat sekolah itulah maka sekolah bisa melakukan sistem menejemen atau pengelolaan mandiri.
4. Human Initiative Perspektif
sumber daya manusia (SDM) menjelaskan bahwa orang merupakan sumber daya penting di dalam organisasi sehingga poin petama manajeman merupakan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di dalam sekolah untuk menilai dari perspektif ini maka Manajemen Sekolah memiliki tujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah untuk bisa bekerja dengan baik dan mengaktualisasikan potensinya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat dilihat dari perkembangan aspek ini. Prinsip ini menenaknkan bahwa manusia bukan suatu sumber daya yang statis atau tetap, tetapi dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia penting untuk selalu ditemukan, digali, dan kemudian selanjutnya dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak bisa lagi menggunakan istilah staffing yang mengarah hanya pada pengelolaan manusia sebagai barang yang statis. Lemabaga pendidikan harusnya menggunakan istilah human resources development memiliki konotasi yang dinamis dan aset yang yang penting dan memiliki kemampuan untuk terus dikembangkan.

A. Ruang linkup Manajemen Sekolah
Yang akan dibahas di sini adalah ruan lingkup manajemen sekolah Berdasarkan Obyek Garapan. Ruang Lingkup Menurut Objek Garapan adalah keseluruhan aktifitas manajemen sekolah secara langsung ataupun tidak langsung terkait dalam proses mendidik anak di sekolah, yaitu:
a. Manajemen Peserta Didik
Manajemen peserta didik berada diposisi yang strategis, karena merupakan sebuah  sentral layanan kependidikan, mencakup dalam persekolahan atau yang berada di luar  institusi persekolahan, yang menuju kepada peserta didik. Semua kegiatan pendidikan, baik yang berhubungan dengan manajemen akademik, layanan pendukung akademik, sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana (SARPRAS), sumber daya keuangan, dan hubungan sekolah dengan masyarakat (HUMAS), selalu  ditingkatkan agar peserta didik merasakan layanan pendidikan yang maksimal.
Knezevich (1961) memberikan definisi manajemen peserta didik adalah layanan yang  perhatian pada pengaturan,  pengawasan, dan layanan Peserta didik di kelas serta di luar kelas seperti: pendaftaran, pengenalan, layanan individual seperti mengembangkan minat, kemampuan, peserta didik serta kebutuhan sampai ia mencapai tujuan di sekolah.
Tujuan umum manajemen peserta didik: memanage proses kegiatan dari peserta didik supaya semua kegiatan peserta didik mengedeankan proses KBM di sekolah; selajutnya, KBM di sekolah dapat berjalan dengan lancar, teratur dan tertib dan bisa memberikan kontribusi untuk pencapaian tujuan dari sekolah dan keseluruhan tujuan pendidikan.
Tujuan khusus dari  manajemen peserta didik, adalah
(1) meningkatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor peserta didik;
(2) mengupayakan dalam pengembangan kecerdasan, bakat dan minat peserta didik;
(3) menyalurkan aspirasi, yang diharakan dan kebutuhan peserta didik;
(4) dengan semua tujuan di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dan belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.

b. Manajemen personil sekolah
kegiatan-kegiatan yang direncanakan dilakukan dengan sengaja untuk pembinaan secara terus-menerus para staff di sekolah, sehinggga mereka dapat memabantu kegiatan sekolah dengan efektif dan efisien demi mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. 
Berikut lima aspek kajian tentang manajemen kepegawaian, yaitu:
(1) perencanaan kebutuhan,
(2) pengrekrutan dan pemilihan atau seleksi,
(3) pengembangan dan pembinaan
(4) promosi dan  mutasi
(5) keberhasilan Manajemen SDM
c. Manajemen Kurikulum: Secara operasional proses manajemen kurikulum mecakup 3 pokok kegiatan, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan Pendidik, peserta didik, dan seluruh civitas Akademika.
d. Manajemen atau pengelolaan sarana dan prasarana
Dalam pengelolaan sarana dan prasarana sekolah sangat penting karena merupakan Komponen-Komponen dalam menunjang kegiatan pembelajaran.
f. Manajemen atau pengelolaan pembiayaan/Keuangan
Manajemen pembiayaan/Keuangan memiliki tujuan untuk memberikan pelayanan secara maksimal dalam hal pembiayaan-pembiayaan sekolah yang meliputi biasa internal dan eksternal dan pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan
g. Manajemen atau pengelolaan organisasi
adapun cara yang efektif dan dapat dilaksanakan oleh sekolah dalam rangka mengembangkan organisasi sekolah adalah dengan adanya upaya pembagian kerja dan tata kerja di sekolah
h. Manajemen atau pengelolaan humas dan kerjasama.
Manajemen humas dan kerjasama memiliki tujuan untuk memperoleh simapati dari masyarakat secara umum serta publiknya pada khususnya, sehingga terwujudnya kegiatan operasional sekolah atau pendidikan dengan efektif dan efisien, demi tercapainya tujuan  dari pendidikan yang telah ditentukan kegiatan-kegiatan manajemen hubungan sekolah dan masyarakat (HUMAS) adalah sebagai berikut:
1. Analisis kebutuhan atau keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan  sekolah
2. menyusun program ataukegiatan untuk humas.
3. Pembagian tugas, dapat melaksanakan program humas.
4. terciptanya hubungan sekolah dengan orang tua atau wali murid
5. mengajak orang tua menyediakan lingkungan belajar yang efektif
6. Mengadakan komunikasi atau diskusi dengan tokoh masyarakat
7. Memulai kerjasama anatar sekolah dan instansi pemerintah atau swasta
8. Mengadakan kerjasama dengan organisasi sosial keagamaan (ORMAS)
9. melihat hubungan sekolah dengan masyarakat
10. Penilaian hasil kerja dari hubungan sekolah dengan masyarakat.

Rabu, 07 Juli 2021

Laporan Bacaan

Nama   : Ahmad Aldi Yanto

Nim     : 11901295

Kelas   : 4 PAI C

Makul  : Magang I

 4 KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

Menjadi guru tidaklah semudah yang orang lain lihat, tidak hanya duduk-dudukan, membaca buku dan hanya sekedar marah-marah kepada anak didik, tapi menjadi seorang guru harus memiliki keahlian di berbagai bidang dan kesabaran untuk menghadapi para peserta didik yang memiliki berbagai ragam tingkah laku serta menjadi ujung tombak pembelajaran bagi peserta didik. Untuk menjadi seorang guru yang professional, maka perlu diketahui empat kompensi guru professional sesuai dengan judul diatas.

Kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan seseorang dalam bidang kerja atau profesi tertentu, dimana seseorang yang sudah memiliki kemampuan atau kecakapan dalam bidang berkerja berarti ia sudah menguasai kompetensinya sehinggan ia mampu menciptakan sesuatu yang baik untuk ditiru oleh orang-orang sekitar. Kompetensi juga bisa diartikan sebagai kapasitas untuk melakukan sesuatu yang dihasilkan dari proses belajar dan kompetensi juga memiliki arti sebagai suatu keterampilan atau kemahiran seseorang yang bersifat aktif.

Jika merujuk kepada UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi diartikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Seseorang yang memiliki profesi tidak sama dengan orang yang tidak memiliki profesi dalam bidang apapun, yang memiliki profesi tentunya tidak akan bisa digantikan dengan orang yang bukan profesinya, misalnya seorang arsitek dituntut untuk menjadi seorang dokter, tentunya tidak akan bisa kerena mereka tidak menjalankan sesuatu dengan profesinya masing-masing. Jadi, apapun perkerjaan seseorang akan terasa mudah jika itu sudah menjadi profesinya.

 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 ini tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.

1.      Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik disebut juga dengan kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat, ciri anak didik dan perkembangannya.  Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Guru merupakan orang tua kedua bagi anak didik, jadi guru harus bisa memahami sifat anak didiknya dan membimbing perkembangannya menjadi lebih baik. Jika dirumah ia dididik dengan lembut atau bisa dikatakan dengan manja, maka disekolahan seorang guru harus bisa menyesuaikan dengan didikan orang tua mereka dirumah, tapi bukan berarti seorang guru harus mendidik mereka dengan manja juga. Misalnya dirumah, seorang anak selalu dituruti kemauan mereka ketika meminta sesuatu, seperti minta ambilkan makanan didapur dan kemudian dituruti oleh orang tuanya. Nah, jadi seorang guru tidak harus menjadi seperti orang tua, seorang guru harus tegas terhadap didiknya agar anak didiknya bisa menjadi anak yang tidak bergantungan kepada orang lain. Tetapi, seorang guru juga perlu mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa, menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa, serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa.

Pertama, sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang akan dibantunya. Guru diharapkan memahami sifat-sifat anak didik, karakter anak didik, tingkat pemikiran anak didik, perkembangan fisik serta psikis anak didik. Untuk memahami sifat yang ada pada anak, seorang guru harus memahami karakter yang ada pada anak didik terlebih dahulu, seperti mendekati anak didik karena semakin dekat seorang guru dengan anak didik, maka semakin memudahkan guru untuk mengenal karakter anak didik tersebut. 

Kedua, guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis, maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. Untuk itu, guru diharapkan  memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata.

Ketiga, guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran, maka guru akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya dan yang paling penting adalah guru dapat mengetahui apakah anak didik bisa berkembang dengan model pembelajaran yang dia terapkan atau tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Jika model pembelajaran yang guru terapkan tidak membuat anak didik berkembang, maka seorang guru harus kreaktif kembali untuk memilih metode pembelajaran yang lainnya dan bisa membuat anak didik merasa lebih mudah untuk menerima pembelajaran sehingga mereka lebih mudah untuk berkembang.

Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan, (2) menguasai bahan pembelajaran, (3) menyusun program pembelajaran, (4) melaksanakan program pembelajaran, dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran.

1.      Kompetensi kepribadian

Menurut Suparno (2002:47) kompetensi kepribadian adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral, kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objektif, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain, kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, serta dapat ambil keputusan. (Depdiknas, 2001). Kepribadian seorang guru lebih menyangkut kepada kepribadian yang lebih baik, guru yang bertanggung jawab serta guru yang selalu belajar agar memiliki pemikiran yang lebih maju. Kepribadian yang pertama, yang harus ditekankan kepada seorang guru ialah guru yang bermoral dan beriman, karena jika guru yang bermoral serta beriman merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Maka dari itu guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa untuk mendidik anak-anak didiknya.

        Yang kedua, guru harus mempunya sikap yang bertanggung jawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggung jawab, contohnya dapat kita lihat dizaman sekarang, dimana sering sekali terjadi pelecehan seksual terhadap anak didik disekolah, ini disebabkan karena guru tidak bertanggung jawab sepenuhnya seperti tidak menegur pakaian anak didik yang terlalu pendek, ketat sehingga memperlihatkan lekukan tubuhnya, guru yang tidak tegas dalam membuat peraturan serta guru yang tidak mempersiapkan pembelajaran yang baik sehingga terjadilah pelecehan seksual terhadap anak didik.
        Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, dan kepala sekolah. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru.

Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, dan kepala sekolah. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru.

Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat meneladannya. Terkadang disekolahan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, lambat masuk kelas, seenaknya bolos dijam pelajaran, tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan rumah. Yang perlu diperhatikan di sini adalah, meski guru sangat disiplin, ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar.

Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan, mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini, guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana.

1.      Kompetensi Sosial

Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali dari peserta didik, dan masyarakat sekitar tanpa memandang dari Ras, Agama, jenis kelamin, latar belakang keluarga, kondisi ekonomi keluarga dan status sosial keluarga.

Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain, (2) memiliki toleransi pada orang lain, (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain, dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain. Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas, 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai sosial intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. Saat dewasa, kita mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti karier di masyarakat, lembaga, atau perusahaan. Banyak orang sukses yang jika kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama, berempati, dan pengendalian diri yang menonjol.

2.      Kompetensi professional

Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti arsitek misalnya). Jika seorang professional melakukan perkerjaannya, maka orang lain tidak dapat mengikuti apa yang ia lakukan, contohnya seorang arsitek membuat desin rumah maka seorang dokter tidak akan bisa membuat desin rumah yang sama persis seperti seorang arsitek, walaupun seorang dokter bisa tetap akan tidak dibeli oleh orang lain, begitu juga jika seorang arsitek menyandang profesi seorang dokter maka itu tidak akan bisa berjalan dengan semaksimal mungkin.

Rabu, 23 Juni 2021

Kultur Sekolah

Ahmad Aldi Yanto

11901295

PAI 4C

magang 1

KULTUR SEKOLAH

    Kultur sekolah adalah sebuah kebudayaan atau suatu pola pemahaman tentang pola sikap, norma, nilai dan tradisi. Dengan adanya kultur sekolah ini kita dapat melihat bagaimana sekolah dapat berperan sebagai tempat penyatuan kultur atau budaya yang ada di sekolah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa di sekolah tentunya ada beragam kultur. Pertanyaannya, apakah bisa sekolah menyatukan siswa dari beragam kultur tersebut?

            Kultur sekolah juga dapat dijelaskan sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah. Kultur sekolah juga dapat memperbaiki kinerja siswa jika kultur sekolah sehat, bersatu, kuat, positif dan professional, artinya kultur sekolah dapat menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah. Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan.

    Di sekolah, tentunya ada seorang guru yang berperan sebagai pembimbing atas apa yang dilakukan oleh para siswa, dan sekolah merupakan tempat belajar, berinteraksi sesama teman yang memiliki beragam kultur. Sekolah juga dapat diartikan sebagai sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat sekumpulan orang-orang yang masing-masing mempunyai tujuan, mereka terhimpun ke dalam satu susunan yang masing-masing mempunyai tugas dan tangung jawab.  Dengan dibangunnya sekolah akan lebih memudahkan untuk mengenal satu sama lain dan membentuk kultur sekolah yang baik. Siswa-siwa yang ada di sekolah tentunya memiliki kultur masing-masing diantara mereka dan memiliki sikap dan perilaku yang berbeda. Sekolah harus bisa menyelesikan permasalahan mengenai kultur, diantaranya sekolah harus dibentuk menjadi tempat yang nyaman dan tenang sehingga masyarakat sekeliling tidak merasa terganggu dan begitu juga dengan siswa-siswa nya harus dibentuk dengan perilaku yang baik, dimana semua siswa harus diajarkan untuk bisa saling menerima perbedaan baik dalam bentuk agama maupun suku yang mereka anut.

            Peran seorang guru sebagai pembentuk kultur sekolah tentunya tidak mudah, butuh waktu yang cukup lama untuk mereka bisa menyatukan perbedaan yang ada pada setiap siswa sehingga tebentuknya moral, nilai dan tingkah laku yang baik dari siswa.

            Untuk membentuk moral, nilai dan perilaku yang baik guru harus sering melakukan pengarahan kepada siswa agar sering melakukan kegiatan yang mengarah kepada kerja sama, dan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa untuk saling mengenal, seperti membentuk kelompok berkebun, dan membentuk organisasi lainnya, nah jadi di saat berkebun siswa dapat melakukan kerja sama saling membantu dan mengenal masing-masing suku dan ras teman-temannya. Disaat siswa menjalankan tugas nya guru harus tetap mengawasi dan memberikan arahan kepada siswa, karena jarang sekali siswa bisa langsung menerima perbedaan yang ada pada temannya, biasanya teman yang memiliki perbedaan menjadi bahan buliaan atau candaan, seperti perbedaan pada kulit yang hitam, rambut yang keriting atau bahkan bentuk wajah yang unik.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, guru tentunya harus menjadi peran utama dalam mengatasinya, guru harus bisa memberikan penjelasan dari pengertian perbedaan ras, suku dan agama kepada siswa, kemudian guru juga harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperkenalkan diri. Setelah memperkenalkan diri siswa harus diminta untuk saling menyapa dimana pun mereka bertemu.

Dengan adanya penjelasan dari guru, maka akan ada perubahan dari pola berfikir siswa mengenai perbedaan. Perbedaan sering kali dianggap sebagai masalah bagi setiap orang yang cara berfikir nya sangat minim dan ajaran kultur yang di dapat mungkin tidak terlalu luas.

                Di sekolah murid harus selalu menjaga kultur yang ada di sekolah, jangan sampai kultur yang ada di sekolah menjadi pembahasan yang tidak baik di sekeliling masyarakat sekolah terutama sikap dan tingkah laku, dimana sikap dan tingkah laku ini salah satu dari pengertian kultur dan akan sering di nilai oleh orang sekeliling. Jika tingkah laku yang di tunjukkan oleh siswa tidak baik maka yang menjadi bahan pembicaraan oleh masyarakat sekitar yaitu guru, terutama kepala sekolah. Kepala sekolah adalah orang yang paling banyak berperan penting dalam sekolah, ia bisa menetapkan peraturan yang harus di tertibkan kepada siswa, jadi jika salah satu dari siswa yang tidak taat peraturan, maka yang menjadi bahan kritikan pertama biasanya kepala sekolah, mengapa harus kepala sekolah? karena kepala sekolah yang menetapkan maka kepala sekolah lah yang mengarahkan siswa untuk bisa mentaati peraturan tersebut.

            Kepala sekolah tentunnya mendapatkan bantuan dari para stap-stap guru yang lainnya untuk menetapkan peraturan agar bisa berlaku sesuai yang diharapkan. Setiap guru di mata pelajaran harus masing-masing memiliki peraturan tertentu untuk siswa nya dan disertai dengan kosekuensi nya bagi yang melanggar peraturan.

            Kultur sekolah juga dapat kita temukan dalam bentuk tradisi, nah tradisi di sekolah tentunya memiliki perbedaan dengan sekolah lainnya. Sering kali kita menemukan tradisi berupa tarian ketika menyambut kedatangan orang-orang penting yang berkunjung di sekolah. Biasanya tarian-tarian tersebut merupakan tarian Dayak atau Melayu yang sering digunakan oleh sekolah.

            Selain dengan tarian, mengucapkan salam juga sebagai tradisi yang ada di sekolah, biasanya guru yang selalu mengucapkan salam ketika masuk kelas dan harus bersalaman ketika hendak pulang sekolah. Ada juga sekolah yang memiliki tradisi menggunakan pakaian sebagai tradisi dari sekolah mereka, misalnya pada hari selasa mereka harus menggunakan pakaian batik yang seharusnya digunakan pada hari Rabu dan Kamis oleh sekolah lain. Nah, jadi ini lah yang dimaksud oleh kultur sekolah, dimana masing-masing sekolah memiliki kultur yang berbeda.

            Kultur sekolah bisa dikatakan berhasil dalam membentuk kultur sekolah yang positif atau yang bermutu. Hasil kultur yang positif diantaranya:

1)      Kultur yang mampu menghasilkan organisasi yang positif, yang membangun nilai-nilai kepercayaan bagi setiap orangnya.

2)      Kultur sekolah harus dapat memberikan hasil yang baik kepada siswa, seperti mengajarkan perbedaan yang ada di setiap orang.

3)      Kultur sekolah harus bisa memberikan perubahan sikap pada siswa, menjadikan siswa memiliki pola sikap yang baik.

4)      Kultur sekolah harus mampu menciptakan siswa yang bisa menghargai orang lain.

Adanya kultur yang positif tentunya ada pula kultur yang negatif, dimana ini dapat memberikan dampak yang buruk kepada siswa, diantaranya:

1)      Kultur sekolah yang tidak mampu menciptakan hasil yang positif, seperti organisasi yang tidak bisa berjalan dengan lancar, yang tidak bisa di percaya.

2)      Kultur sekolah yang tidak berhasil mengajarkan siswa nya untuk saling menghargai

3)      Kultur yang tidak ada perubahan dalam pembentukkan pola sikap siswa yang baik

4)      Kultur yang tidak berhasil menciptakan siswa untuk menghargai orang lain.

Selain dari tradisi-tradisi yang ada disekolah, siswa juga harus dituntut untuk meningkatkan motivasi belajar. Dalam meningkatkan motivasi belajar, guru harus menjadi peran utama dalam mengawasi dan turut mempraktikan hal tersebut. Ketika kultur sekolah menginginkan siswa yang termotivasi dalam belajar maka yang harus termotivasi terlebih dahulu adalah guru, bagaimanapun guru selalu menjadi panutan bagi siswa nya. Selain termotivasi untuk belajar, kultur sekolah juga harus dapat menciptakan siswa yang disiplin. Disiplin dalam hal yang baik, seperti masuk kelas tepat waktu, mengunakan seragam sekolah yang rapi serta mendisiplinkan peraturan yang ada.

Nah, untuk menentukan sekolah apakah berhasil dalam menyatukan kultur dari beragam banyaknya siswa, tentu kita dapat melihat hasil yang didapatkan oleh kultur sekolah tersebut dalam membentuk kultur sekolah yang baik dan bernilai positif. Jika kultur sekolah di bentuk dengan adanya kerjasama antara sesama guru, maka besar kemungkinan kultur sekolah dikatakan berhasil.

Kultur sekolah yang berhasil dapat dilihat dari para siswa dan guru, karena kultur sekolah ini menyatukan sebuah perbedaan. Kultur sekolah juga harus berkembang di masyarakan sekeliling, sekiranya masyarakat sekeliling merasa terganggu dengan adanya tradisi yang dilakukan oleh sekolah, maka masyarakat memiliki kewajiban untuk mengajukan usulan yang sekiranya dapat membuat mereka tidak merasa terganggu oleh tradisi yang sekolah jalankan.

Lebih baiknya kultur sekolah harus dapat berkerjasama dengan masyarakat sekeliling agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan membuat nyaman kepada sesama tidak hanya kepada satu pihak saja. Karena, jika kultur sekolah membuat masyarakat sekeliling merasa terganggu maka kultur sekolah tidak dapat dikatakan berhasil. Untuk menghindari kegagalan dalam kultur sekolah, maka perlu yang namanya kerja sama, seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Sejalan dengan berbagai pengertian budaya atau kultur yang dikemukakan dalam uraian sebelumnya maka dapat dipahami bahwa konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah lebih menekankan kepada penghayatan segi-segi, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan yang ini cenderung tampak ingin menciptakan hal-hal besar dengan mengubah struktur untuk mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataanya terlalu kuat untuk direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sebaliknya pendekatan kultur justru mengusahakan agar muncul orang-orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai-nilai yang bersifat positif. Oleh karena banyak kalangan meyakini bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan IQ yang tinggi semata melainkan dipengaruhi juga oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur-unsur kepribadian.

Wardiman Djoyonegoro (Suyanto & Abbas, 2001: 148) menyatakan bahwa berbagai perbekalan yang diberikan di sekolah oleh guru pada hakikatnya untuk menginternalisasikan tiga nilai dasar, masing-masing adalah: (1) membangun atau membentuk siswa yang memiliki orientasi ke depan dengan ciri-ciri, antara lain luwes, tanggap terhadap perubahan, dan memiliki semangat berinovasi; (2) senantiasa punya hasrat untuk mengeksploitasi lingkungan dan kekuatan-kekuatan alam, artinya tidak tunduk pada nasib, senatiasa berusaha memecahkan masalah dan berusaha mengusai iptek, dan (3) memiliki orientasi terhadap karya yang bermutu atau punya achievement orientation, antara lain ditandai oleh penilaian yang tinggi terhadap hasil karya. Untuk menuju internalisasi nilai-nilai dimaksud siswa harus dipacu motivasinya untuk berprestasi dan semangat belajarnya demi terwujudnya kinerja siswa yang dicita-citakan setiap sekolah.


Rabu, 16 Juni 2021

Manajemen Sekolah

 Nama : Ahmad Aldi Yanto

Nim : 11901295

Kelas : PAI 4 C

Makul : Magang 1

                       Manajemen sekolah

Bab 1

A. Konsep manajemen berbasis sekolah          

      Sebelum saya menjelaskan panjang lebar ada baiknya kita harus mengetahui dulu apa si manajemen itu? Mengapa harus ada manajemen disekolah? Dan lain-lain

Oke dari yang saya baca saya akan menjelaskan apa itu manajemen? dan mengapa harus ada manajemen disekolah? Arti dari Manajemen itu sendiri ialah mengelolah nah dalam mengelolah sesuatu hal maka perlu adanya proses dalam mengatur  segala sesuatu dengan tujuan pendidikan secara menyeluruh yang dapat dikerjakan oleh individu maupun kelompok.

Adapun manajemen sekolah bermutu ialah salah satu dari pada model penggelolaan secara otonomi atau bisa disebut dengan pemerintah sendiri. Maksud nya pemerintah daerahlah yang memiliki hak, wewenang dan kewajiban pemerintah yang mengaturnnya maka pihak madrasah maupun kepala sekolah untuk mengambil kebijakan yang bersifat ikut sertaan sesuai dengan pemerintah. 

Secara ontologis yang saya baca bahwa antara manajemen sekolah dengan manajemen pendidikan itu memiliki pengertian sama,  mengapa karena antara manajemen sekolah dan manajemen pendidikan itu banyak sekali persamaannya.  Sampai-sampai kita pun sulit untuk membedakan antara manajemen sekolah dengan manajemen pendidikan. kemudian ruang lingkup dari pada pendidikan itu merupakan garapan atau bisa disebut dengan mengerjaankan pekerjaan dari ruang lingkup manajemen sekolah . Manajemen yang terstruktur akan menghasilkan organisasi yang berjalan dan terkonsep adanya. 

Adapun beberapa konsep dari pada manajemen sekolah yang bermutu yaitu menciptakan hubungan antara sekolah dengan orang tua dari wali murid maka dengan hubungan tersebut diharapkan antara sekolah dengan orang tua dapat berhubungan baik dengan seiring berjalannya waktu. Hubungan yang baik akan membuat masyarakat lebih peka dan lebih bertanggung jawab lagi agar terciptannya tujuan bersama dengan hubungan itu maka dapat memajukan sekolah. Dalam peciptaan hubungan tersebut maka dapat memberikan gambaran kepada masyarakat. Adapun salah satu dari tujuan manajemen sekolah yang bermutu ialah pendidik harus berinovasi penting pendidikan dalam berinovasi dapat menciptakan sesuatu yang baru atau melakukan pembeharuan yang ada agar terciptannya pendidikan yang bermutu.

B. Prinsip manajemen sekolah

Ada 4 prinsip dari pada manajemen sekolah yaitu:

1. Equifinality

Sebelum saya menjelaskan ada baiknya saya menjelaskan apa itu equifinality yaitu berupa tujuan yang memiliki pencapaian. Nah prinsip yang digunakan equifinality yaitu berdasarkan teori modern dari prinsip ini menggunakkan beberapa metode yang berbeda untuk pencapai tujuannya. 

2. Decentralizion 

Decentralizion yang bearti desentralisasi adalah proses yang penting dalam reformasi. Prinsip dari pada  desentralisasi ini sangat konsisten dengan prinsip yang menyatakan keadaan akhir sehingga tidak bergantung .

3. Self-management system

Self-management system atau sistem memanajemen diri mengapa perlu adanya sistem menajemen diri karena individu maupun kelompok bisa mengendalikan diri maka manajemen sekolah yang bermutu yaitu menyadari bahwa pentingnya sekolah mengelolah kebijakan dengan mandiri atau sendiri. Prinsip ini sama dengan prinsip yang diatas. Prinsip yang digunakan  self-management system yaitu prinsip ketika ada masalah dapat menyelesaikan secara sendiri.

4. Human initiative 

Manusia atau orang itu merupakan sumber daya dengan ini dapat mengembangkan sumber daya manusia. Prinsip ini mengakui manusia itu bukan tidak bisa berubah melainkan manusia itu dapat berubah dengan cara menyesuaikan diri.

C. Ruang kajian manajemen sekolah

Manajemen sekolah juga perlu adanya ruang untuk mengkaji, untuk mengetahui ruang lingkup dari pada manajemen sekolah ada 4 sudut pandangnya yaitu:

1. Berdasarkan obyek garapan 

Dalam sudut pandang ini yang berkerja keseluruh aktifitas yang memanajemen sekolah dengan cara langsung maupun tidak langsung yang terlibat kedalam kegiatan mendidik yaitu : manajemen peserta didik, manajemen personil sekolah, manajemen kurikulum, manajemen sarana dan prasarana, manajemen tata laksana, manajemen pembiayaan/keuangan,

2. Berdasarkan fungsi manajemen

Yang pertama adalah perencanaan, Perencanaan ini sebuah proses yang memikirkan dan menetapkan kegiatan-kegiatan. Yang kedua yaitu perorganisasian merupakan  sekelompok orang yang ingin mencapai tujuan bersama yang ketiga adalah pengarahan-pengarahan ini merupakan bukan sesuatu usaha yang diarahkan oleh atau dipimpin oleh individu yang memberikan penjelasan atau pun bimbingan strategi mengajar yang keempat adalah pengkoordinasian daun merupakan suatu usaha yang dipimpin oleh oleh pimpinan untuk mengatur segala kegiatan namun kegiatan itu akan dilakukan oleh bawahannya yang kelima adalah komunikasi merupakan segala usaha yang dilakukan oleh pimpinan yang menyebarluaskan informasi demi mencapai tujuan bersama yang keenam adalah pengawasan merupakan yang dilakukan oleh pimpinan yang itu pimpinan dapat mengetahui atau semua pelaksanaannya dilakukan tuh harus diketahui oleh pimpinan 

3. Wilayah belajar 

untuk wilayah yang pertama namanya aja ya itu manajemen pendidikan seluruh negara Apa itu manajemen ini untuk untuk urusan nasional bukan hanya pelaksanaan pendidikan di sekolah saja namun juga di luar sekolah seperti penelitian untuk wilayah kerja yang kedua adalah Manajemen Pendidikan satu provinsi manajemen ini meliputi wilayah kerja dengan satu provinsi namun akan dibantu oleh petugas pendidikan yang ada di Kabupaten maupun Kecamatan untuk wilayah kerja yang ketiga yaitu Manajemen Pendidikan satu  kabupaten atau kota manajemen ini untuk mengurus semua pendidikan yang memuat jenjang dan jenis untuk wilayah kerja yang keempat yaitu manajemen pendidikan satu unit kerja untuk wilayah kerja ini yang memberatkan pada kerja yang langsung menangani pekerjaan mendidik untuk wilayah kerja yang kelima yaitu manajemen kelas wilayah manajemen kelas dengan isinya Mengapa saya bilang begitu kalau manajemen kelas ini dapat mengelola kelas.

4. Berdasarkan pelaksanaan

D. Fungsi-fungsi manajemen

Fungsi manajemen ini merupakan jenis dari Tugas atau kegiatan dari manajemen sehingga memiliki kekhasan Kayaknya udah ada 6 fungsi daripada manajemen yang pertama yaitu perencanaan perencanaan bisa dilihat dari pada seperti tindakan tindakan awal proses daripada manajemen dengan perencanaan ini dapat mengkoordinasikan dengan baik. untuk fungsi manajemen yang kedua yaitu perorganisasian sekelompok orang yang melakukan kegiatan Demi apa tujuan bersama sehingga tercapai tujuan tersebut. Untuk fungsi manajemen yang ketiga yaitu menggerakkan merupakan suatu tindakan yang yang dapat mengusahakan semua anggotanya untuk mencapai perencanaan yang telah ditetapkan. Untuk fungsi manajemen yang keempat adalah kepemimpinan ini yang memimpin adalah Kepala Sekolahnya indikator yang baik merupakan indikator yang dipimpin oleh kepala sekolah sehingga Pak sekolah dapat mengelola organisasi dalam memimpin Untuk fungsi manajemen yang kelima adalah pengawasan segala upaya yang memastikan bahwa sehingga dapat mencapai tujuan Untuk fungsi manajemen yang keenam yaitu penyusunan seperti pengembangan sumber daya.  

Bab 2

Mengelola sekolah bermutu

proses penerapan manajemen sekolah  Penerapan manajemen sekolah harus melibatkan seluruh pengelola pendidikan seperti sekolah pendidik komite tokoh masyarakat Sistem tata kelola sekolah Asisten daripada kelas sekolah yaitu melaksanakan visi dan misi strategi yang telah yang harus diterapkan dengan baik Kepemimpinan sekolah sangat menentukan kemajuan sekolah mengapa karena dengan baik maka sekolah juga bisa menjadi maju tantangan tangan seorang pemimpin seperti kepala sekolah itu harus memimpin dengan baik Kepala sekolah ini berfungsi sebagai motivator untuk menciptakan tim yang bagus bekerjasama sehingga tata kelola manajemen sekolah itu dapat bekerja dengan baik Kepala Sekolah yang mendorong dan mengembangkan kemampuan seluruh daripada pendidik staf tata usaha dan karyawan sehingga dapat memberikan inovasi dan terobosan program yang terbaru untuk kegiatan sekolah agar maju.

Bab 3 

Implementasi sistem informasi manajemen sekolah

 Pengertian sistem sistem itu memiliki dua pendekatan yang pertama yaitu pendekatan sistem yang menekankan ke prosedurnya yang kedua yaitu menekankan pada elemen dan komponennya titik ciri utama dari pada sistem ini itu berorientasi untuk mencapai tujuan tertentu sehingga dengan tujuan tertentu dapat menciptakan nilai dengan mengkombinasikan kan atau mencampurkan sumber daya dengan cara-cara tertentu sistem ini sebenarnya mempunyai tujuan namun yang biasanya dijadikan pertama sehingga perlu menentukan urutan prioritas Untuk yang kedua yaitu pengertian data-data ini merupakan sebuah benda atau aktivitas transaksi yang tidak memiliki makna tapi dapat mempengaruhi pemakai Yang ketiga yaitu pengertian sama si informasi itu merupakan sebuah ah atau data yang berguna untuk yang menerima sumber informasi itu adalah data-data saya disebut dengan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian yang ada titik faktor utama dalam memenangkan persaingan dalam dunia pendidikan bukan hanya terletak pada suatu program yang ada atau sarana dan anggaran yang anggaran belakang tetapi seharusnya kita tuh bisa memaksimalkan kekuatan efisiensi motivasi Inovasi dan keyakinan untuk meraih keberhasilan bersama dengan kebahasaan itu kita dapat mengelola suatu lembaga pendidik yang tidak hanya pada proses pembelajaran saja tetapi didukung oleh faktor penting lainnya pola dari manajemen dalam setiap aspek pendidikan.

Dengan membangun manajemen yang sistematis atau terstruktur maka perlu adanya komponen pendidikan yang daya saingnya yaitu suatu lembaga pendidik baik sekolah maupun Madrasah sehingga dapat berkembang dan bertumbuh ada tiga hal yang dapat dilakukan sekolah untuk meningkatkan daya saing, Yang pertama yaitu operational Excellence Ini juga termasuk satu nilai bahwa setiap lembaga itu harus senantiasa menjaga Efisiensi dan efektivitas nya dalam menjaga kualitas dari berlangsung setiap komponen dan tahapan dari keberhasilan suatu pendidikan.

  Untuk yang kedua yaitu customer intimacy merupakan suatu prinsip yang harus mampu memenuhi keinginan suatu lembaga dan harapan setiap orang tua yang orang tua tersebut mempercayai sepenuhnya kepada suatu sekolah Untuk yang ketiga yaitu produc leadership Merupakan prinsip yang harus dikembangkan oleh pengelola sekolah dengan cara konsisten dalam melakukan berbagai inovasi di setiap aspek pendidikan. Ada beberapa konsep sistem informasi manajemen dalam pendidikan yaitu pemahaman yang utuh tentang sistem daripada informasi manajemen yang banyak sekali digunakan oleh berbagai bidang baik itu bisnis pemerintah ataupun politik maka dari itu kita harus pandai memahami secara utuh konsep daripada informasi dari manajemen Maka dari penjelasan itu dapat saya simpulkan bahwa informasi dari pada manajemen pendidikan ialah suatu pengolahan data pendidikan yang secara menyeluruh dan yang integrasi yang mampu mengelola berbagai data agar proses pembelajaran bisa efektif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Mengimplementasikan sistem informasi manajemen pada saat ini di dalam pendidikan merupakan sebuah kebutuhan utama untuk meningkatkan daya saing suatu sekolah sehingga proses pendidikan daripada Sisi pembelajaran Maka sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dan tujuan pendidikan.


Rabu, 09 Juni 2021

Kultur sekolah

 Nama : Ahmad Aldi Yanto

Nim : 11901295

Makul : magang 1

1.      Pengertian Budaya

Dalam suatu organisasi yang termasuk ke dalamnya lembaga pendidikan, budaya diartikan sebagai tindakan, yaitu keyakinan dan tujuan yang dianut bersama yang dimiliki oleh anggota organisasi yang potensial membentuk perilaku mereka dan bertahan lama meskipun sudah terjadi pergantian anggota. Contohnya dalam lembaga pendidikan, budaya ini seperti budaya saling menyapa, saling menghargai, toleransi dan sebagainya. (Fauziah, 2018: 10)

Kotter dan Hessket dalam Fauziah (2018:10) mendefinisikan kata “budaya” sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Selain itu kebudayaan juga didefinisikan sebagai norma-norma perilaku yang disepakati oleh sekelompok orang untuk bertahan hidup dan berada bersama.

Schwartz dan Davis dalam Fauziah (2018:10-11) berpendpaat budaya merupakan suatu kesatuan keyakinan dan harapan yang diberikan oleh keseluruhan anggota organisasi. Keduanya dapat menciptakan norma dan kekuatan penggerak yang membentuk tingkah laku individual dan kelompok dalam organisasi tersebut. Sebagaimana ditegaskan Ndraha, budaya setiap orang berbeda dengan orang lain, budaya itu ansich tidak dapat disebut buruk dan baik, karena itu setiap orang atau kelompok adalah berbudaya. Kemudian dapat ditarik kesimpulan budaya adalah seperangkat asumsi, nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya.

2.      Pengertian Sekolah

Tirtarahardja dan La Sulo dalam Fauziah (2018:12) menyatakan bahwa sekolah sebagai pusat pendidikan untuk menyiapkan manusia menjadi individu, warga masyarakat, negara, dan dunia di masa depan. Sekolah diharapkan mampu mengembangkan potensi anak atau peserta didik, untuk meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Sedangkan Suwarno dalam Fauziah (2018:12) berpendapat bahwa sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak setelah memiliki pengalaman hidup di keluarga. Menurut Webster dalam Fauziah (2018:12) memberikan pendapat bahwa sekolah merupakan tempat atau institusi/lembaga yang secara khusus didirikan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar atau pendidikan. Dari beberapa definisi sekolah yang telah dijabarkan oleh beberapa para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sekolah merupakan salah satu institusi/lembaga pendidikan formal yang secara khusus didirikan untuk memberikan pelayanan dan menyelenggarakan proses sosialisasi atau pendidikan dalam rangka mempersiapkan manusia menjadi individu, warga masyarakat, negara dan dunia di masa yang akan datang.

 

3.      Pengertian Budaya Sekolah

Kultur sekolah (school culture) menurut Philips dalam Imtihan (2018: 31) diamknai sebagai kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencirikan sekolah. Pendekatan kultur dalam meningkatkan mutu saat ini mulai memperoleh Persian untuk melengkapi konsep pendekatan struktur yang telah lebih dulu berkembang dalam praktek pengelolaan sekolah. Menurut Sastrapratedja dalam Imtihan (2018: 31) "struktur" dan" perilaku" selama ini merupakan dua konsep yang sangat dominan dalam pendekatan pelatihan untuk memperbaiki kondisi Organisasi. Tetapi pendekatan ini tidak mampu Menjangkau "summer-sumber kemanusiaan" dalam suatu profesi. Oleh karena itu para para ahli mulai berpaling kepada "manajemen berbasis nilai". Pendekatan ini menekankan pada upaya mengembangkan hubungan kolegial, kepercayaan satu terhadap yang lain, saling pengertian dan mendukung. Itu semua pada gilirannya akan menjadi perbaikan yang saling berhubungan atau berkesinambungan dan pemberdayaan seluruh warga sekolah. Pendekatan budaya atau kultur juga menekankan pada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, dan riwayat sekolah, yang kesemuanya itu akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya.

Belakangan ini peningkatan kualitas pendidikan pada semua jenjang termasuk Sekolah Menengah Umum (SMU) yang kemudian menjadi tekad dan kesepkatan nasional sesuai amanat UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) No. 20 Tahun 2003. Selanjutnya diperlukan langkah-langkah dan tindakan nyata di tingkat sekolah, kelas dan masyarakat local tempat sekolah beroperasi. Perbaikan sistem persekolahan yang pada intiya adalah membangun sekolah dengan kekuatan utama sekolah yang bersangkutan. Sejalan dengan pendapat Zahromi, perbaikan mutu sekolah dengan demikian perlu memahami kultur sekolah, melalui pemahaman kultur sekolah, berfungsinya sekolah dapat dipahami, aneka permasalahan dapat diketahui, dan pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan. (Imtihan 2018: 31-32)

Membahas tentang kultur sekolah tidak terlepas dari pengkajian tentang modal budaya (culture capital). Pada pandangan sosiologis Pierre Bourdieu sebagai tokoh yang ahli dalam bidang modal budaya (Bourdieu dalam kusdaryani, dkk, 2016:126), menyatakan bahwa modal budaya merupakan selera bernilai budaya dan pola konsumsi yang mencakup rentangan luas properti seperti seni, pendidikan dan bentuk-bentuk bahasa. Di sisi lain, juga dijelaskan bahwa batasan modal budaya sebagai berbagai pengetahuan yang sah. Penjelasan modal budaya secara lebih detail juga disampaikan oleh Lee (Damsar,2012:197), yaitu sebagai kepemilikan kompetensi kultural tertentu, atau seperangkat pengetahuan kultural yang menyediakan bentuk konsumsi kultural yang dibedakan secara khusus dan klasifikasi rumit dari barang-barang kultural dan simbolis. Dari beberapa definisi yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa modal budaya merupakan kepemilikan kompetensi dan pengetahuan kultural yang menuntun selera bernilai budaya dan pola-pola konsumsi tertentu, yang dilembagakan dalam bentuk kualifikasi pendidikan. Menurut Deal & Peterson dalam Efianingrum (2013: 20-21) berpendapat bahwa kultur sekolah dan pimpinan sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam implementasi atau praktik kehidupan di sekolah. Ketika para pengambil kebijakan dan reformis pendidikan lebih menekankan pada pentingnya struktur dan  rasional, justru mengingatkan kepada kita bahwa perubahan pada aspek tersebut tidak sepenuhnya berhasil tanpa dukungan faktor kultural. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non-akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa.

Menurut Efianingrum (2013: 24) Sekolah memiliki peran dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, dalam Efianingrum, 2013: 24). Munculnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang  khas bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya. (Efianingrum 2013: 24)

Menurut Efianingrum (2013: 22) mengemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

a. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan di sekolah.

b. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non tenaga kependidikan, dan tenaga administrasi.

c. Kurikulum sekolah yang memuat gagasangagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

 d. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

4.      Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

Deal & Peterson dalam Efianingrum (2013: 24) memperluas kajian yang menunjukkan betapa berpengaruhnya kultur terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

a)      Visi dan Nilai (Vision and Values)

Berdasarkan pendapat Kouzes dan Posner dalam Locke yang kemudian dikutip oleh Efianingrum (2013: 24) yang mendefinisikan visi sebagai berikut “Vision as an ideal and unique image of the future”. Kemudian Hickman dan Silva dalam Efianingrum (2013: 24) yang mengemukakan bahwa visi adalah “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”. Sehingga dapat diartikan dan ditarik kesimpulan visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis/antropologis

b)      Upacara dan Perayaan (ritual and ceremony)

Menurut Efianingrum (2013: 25) Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah memiliki fungsi dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk mengisi kembali semangat dalam bentuk motivasi antar siswa yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah.

c)      Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu memiliki peran penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, romantisme masa lalu dapat menumbuhkan semangat untuk mewujudkan kejayaan di masa yang akan datang. (Efianingrum 2013: 25)

d)     Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Sekolah pada umumnya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang atau logo sekolah, motto, lagu (mars atau hymne), dan seragam sekolah yang menggambarkann visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.

 

5.      Aneka Praktik pengembangan kultur Sekolah

a.       Prestasi Akademik

Menurut (Efianingrum 2013: 28) menyatakan bahwa di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi dalam bidang akademik. Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua peserta didik cenderung lebih menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya.

b.      Non-Akademik

Prestasi non-akademik dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang mendukung dan menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku kemanusiaan. (Efianingrum 2013: 28)

c.       Karakter

Menurut Efianingrum (2013: 28) Karakter berkaitan dengan moral. Pendidikan untuk membangun karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan dan membangun kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar. Terdapat variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: kondusif bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain

d.      Kelestarian Lingkungan Hidup

Sejumlah sekolah di berbagai jenjang (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. (Efianingrum 2013: 28)


Sumber:

1.      Imtihan, Nurul. 2018. Kultur Sekolah dan Kinerja Peserta Didik MAN Yogyakarta III. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Vol. 6 No. 2, Agustus 2018. Dari file:///D:/Semester%204/Magang%201/kultur%20sekolah/839-Article%20Text-2182-1-10-20190709.pdf