Minggu, 25 Juli 2021

Ahmad Aldi Yanto

 MENEJEMEN SEKOLAH

Menurut definisi manajemen berbasis sekolah (Purwanto, 2008), manajemen sekolah ontologi memiliki arti yang sama dengan manajemen pendidikan. Setiap orang memiliki kesamaan yang tidak bisa dibedakan. Terutama ruang lingkup manajemen pendidikan juga ruang lingkup manajemen sekolah. Sekali lagi, proses bekerja melalui fungsi yang sama. Beroperasinya organisasi sekolah adalah karena filosofi manajemen yang terstruktur. Manajemen organisasi sekolah dikenal juga dengan manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan juga diartikan sebagai administrasi pendidikan. Manajemen pendidikan adalah keseluruhan proses meninggalkan dan mengintegrasikan semua pribadi, spiritual dan material yang berkaitan dengan terwujudnya tujuan pendidikan. Seperti yang dijelaskan oleh James Jr. (2007: 14) Dijelaskannya bahwa manajemen sekolah merupakan proses yang efektif dalam memberdayakan pengelola sekolah dengan sumber daya manusia.
Sama dengan James, Ali Imron Sauki (2014:104) juga berpendapat bahwa manajemen pendidikan merupakan proses tertatanya lembagaan pendidikan, dengan melibatkan potensi-potensi baik yang bersifat manusia ataupun yang bersifat non manusia demi memperoleh tujuan pendidikan dengan efektif dan efisien.
Kesimpulannya adalah manajemen atau pengelolaan adalah komponen integral dan tidak bisa dipisahkan dari suatu proses pendidikan secara menyeluruh.
Pengertian Manajemen Sekolah bermutu adalah terjemahan dari “school-based management”. Manajemen sekolah yang bermutu merupakan paradigma pendidikan baru yang memberikan otonomi luas di tingkat sekolah (partisipasi masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto menjelaskan bahwa manajemen sekolah yang berkualitas merupakan pilihan baru dalam manajemen pendidikan saat ini, yang menekankan pada kreativitas dan kemandirian sekolah. Nurcholis mengatakan bahwa karena desentralisasi pendidikan, manajemen sekolah yang berkualitas adalah bentuk lain dari sekolah. Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan mendorong partisipasi secara langsung dengan melibatkan seluruh warga sekolah (pendidik, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, dan masyarakat). dirumuskan untuk meningkatkan mutu sekolah sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional.
Lebih lanjut untuk istilah manajemen sekolah itu sendiri seringkali disamakan dengan administrasi sekolah. Terkait dengan itu, dai bebeapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa; pertama, mendefinisikan administrasi secara luas dari pada manajemen (manajemen adalah inti sari dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas jika dibandingkan dengan administrasi (administrasi adalah inti sari dari manajemen); dan ketiga yang berpandangan bahwa manajemen sama halnya dengan administrasi.
Berdasarkan fungsi utamanya, istilah manajemen dan administrasi memiliki fungsi yang sama, yaitu: 1. Merencanakan (planning), 2. mengorganisasikan (organizing), 3. mengarahkan (directing), 4. mengkoordinasikan (coordinating), 5. mengawasi (controlling), 6. dan mengevaluasi (evaluation). Adapun Tujuan Manajemen Sekolah yang Bermutu secara umum, secara berikut:
a. Mutu pendidikan yang memiliki kualitas yaitu melalui kemandirian sekolah serta
b. sinergi warga sekolah dan masyarakat yang baik dalam menyelenggarakan pendidikan dengan bermusyawarah.
c. Meningkatkan tanggung jawab  sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah mengenai mutu sekolah. 
d. kompetisi mutu sekolah yang sehat untuk menilai mutu pendidikan yang menyesuaikan dengan perkembangan saat ini.

A. Prinsip Manajemen Sekolah
Perkembangan sebuah sekolah membutuhkan teori dan konsep yang matang dan terencana untuk mengelola sekolah tersebut. Pembangunan didasarkan pada empat prinsip, yaitu:
1. Equifinality: Prinsip ini didasarkan pada teori modern dan mengasumsikan bahwa ada beberapa cara berbeda untuk mencapai tujuan. Manajemen sekolah yang berkualitas menekankan pada fleksibilitas. Oleh karena itu, sekolah harus mandiri dan mengelola segala kegiatan bersama warga sekolah sesuai dengan keadaan masing-masing. Karena kompleksitas uraian tugas sekolah saat ini dan perbedaan yang signifikan antar sekolah, contoh spesifiknya adalah perbedaan input siswa, infrastruktur, dan kondisi akademik sekolah.Tidak mungkin sekolah beroperasi dalam struktur yang sama di semua kota dan provinsi, apalagi Bicara tentang seluruh negeri. Pendidikan sebagai masyarakat sangat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan yang terus berkembang. Jadi tidak diragukan lagi bila sekolah akan mendapatkan berbagai masalah seperti halnya institusi umum lainya. Tantangan itu wajib dijawab secara tuntas oleh sekolah. Sekolah wajib mampu menyelesaikan berbagau problematika yang dihadapi menggunakan strategi yang paling tepat serta sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Meskipun sekolah lainnya bisa saja memiliki masalah yang sama, namun cara penyelesaiannya tidak akan  sama antara sekolah tersebut dengan sekolah yang lainnya.
2. Desentralisasi
Ini adalah fenomena penting dari reformasi manajemen sekolah modern. Asas desentralisasi sejalan dengan asas keadilan. Dasar teori bahwa pengelolaan sekolah dan kegiatan pengajaran tidak dapat menghindari kesulitan dan masalah menggambarkan prinsip desentralisasi. Pendidikan merupakan persoalan yang kompleks dan rumit, yang membutuhkan desentralisasi dalam proses pelaksanaannya. Prinsip keadilan yang dikedepankan sebelum promosi desentralisasi memungkinkan sekolah memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang dan berkarya, serta mengoperasikan dan mengelola sekolah secara efektif sesuai dengan strategi uniknya. Oleh karena itu, sekolah harus diberi kekuatan dan tanggung jawab untuk memecahkan masalah secepat mungkin ketika muncul. Dengan kata lain, tujuan dari prinsip desentralisasi adalah untuk memecahkan masalah secara efisien, bukan untuk menghindari masalah. Oleh sebab itu, manajemen sekolah bermutu wajib dapat menemukan masalah, menyelesaikannya tepat waktu dan memberi kontribusi yang lebih besar terhadap efektivitas pengajaran dan kegiatan pembelajaran.
3. Sistem manajemen diri (Self-Management System )

Manajemen sekolah yang berkualitas perlu mencapai tujuan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan, tetapi metode untuk mencapai tujuan berbeda. Administrator sekolah yang berkualitas harus menyadari pentingnya membiarkan sekolah menjadi sistem manajemen yang mandiri sesuai dengan kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki
tingkat otonomi tertentu, dan dapat merumuskan strategi pengelolaan, sumber daya manusia dan alokasi sumber daya lainnya serta tujuan pengajaran lainnya sesuai dengan sumber daya dan kemampuan manusianya sendiri, sesuai dengan kondisinya sendiri, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan. Karena sekolah dikelola secara mandiri, sekolah memiliki lebih banyak inisiatif dan tanggung jawab. Asas ini berkaitan dengan asas sebelumnya, yaitu asas keadilan dan asas desentralisasi. Sekolah menghadapi masalah dan harus menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Sekolah bisa menyelesaikan problematika yang dihadapi melalui pelimpahan wewenang dari birokrasi yang diatasi ke tingkat sekolah. Dengan adanya kewenangan tersebut pada tingkat sekolah itulah maka sekolah bisa melakukan sistem menejemen atau pengelolaan mandiri.
4. Human Initiative Perspektif
sumber daya manusia (SDM) menjelaskan bahwa orang merupakan sumber daya penting di dalam organisasi sehingga poin petama manajeman merupakan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di dalam sekolah untuk menilai dari perspektif ini maka Manajemen Sekolah memiliki tujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah untuk bisa bekerja dengan baik dan mengaktualisasikan potensinya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat dilihat dari perkembangan aspek ini. Prinsip ini menenaknkan bahwa manusia bukan suatu sumber daya yang statis atau tetap, tetapi dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia penting untuk selalu ditemukan, digali, dan kemudian selanjutnya dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak bisa lagi menggunakan istilah staffing yang mengarah hanya pada pengelolaan manusia sebagai barang yang statis. Lemabaga pendidikan harusnya menggunakan istilah human resources development memiliki konotasi yang dinamis dan aset yang yang penting dan memiliki kemampuan untuk terus dikembangkan.

A. Ruang linkup Manajemen Sekolah
Yang akan dibahas di sini adalah ruan lingkup manajemen sekolah Berdasarkan Obyek Garapan. Ruang Lingkup Menurut Objek Garapan adalah keseluruhan aktifitas manajemen sekolah secara langsung ataupun tidak langsung terkait dalam proses mendidik anak di sekolah, yaitu:
a. Manajemen Peserta Didik
Manajemen peserta didik berada diposisi yang strategis, karena merupakan sebuah  sentral layanan kependidikan, mencakup dalam persekolahan atau yang berada di luar  institusi persekolahan, yang menuju kepada peserta didik. Semua kegiatan pendidikan, baik yang berhubungan dengan manajemen akademik, layanan pendukung akademik, sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana (SARPRAS), sumber daya keuangan, dan hubungan sekolah dengan masyarakat (HUMAS), selalu  ditingkatkan agar peserta didik merasakan layanan pendidikan yang maksimal.
Knezevich (1961) memberikan definisi manajemen peserta didik adalah layanan yang  perhatian pada pengaturan,  pengawasan, dan layanan Peserta didik di kelas serta di luar kelas seperti: pendaftaran, pengenalan, layanan individual seperti mengembangkan minat, kemampuan, peserta didik serta kebutuhan sampai ia mencapai tujuan di sekolah.
Tujuan umum manajemen peserta didik: memanage proses kegiatan dari peserta didik supaya semua kegiatan peserta didik mengedeankan proses KBM di sekolah; selajutnya, KBM di sekolah dapat berjalan dengan lancar, teratur dan tertib dan bisa memberikan kontribusi untuk pencapaian tujuan dari sekolah dan keseluruhan tujuan pendidikan.
Tujuan khusus dari  manajemen peserta didik, adalah
(1) meningkatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor peserta didik;
(2) mengupayakan dalam pengembangan kecerdasan, bakat dan minat peserta didik;
(3) menyalurkan aspirasi, yang diharakan dan kebutuhan peserta didik;
(4) dengan semua tujuan di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dan belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.

b. Manajemen personil sekolah
kegiatan-kegiatan yang direncanakan dilakukan dengan sengaja untuk pembinaan secara terus-menerus para staff di sekolah, sehinggga mereka dapat memabantu kegiatan sekolah dengan efektif dan efisien demi mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. 
Berikut lima aspek kajian tentang manajemen kepegawaian, yaitu:
(1) perencanaan kebutuhan,
(2) pengrekrutan dan pemilihan atau seleksi,
(3) pengembangan dan pembinaan
(4) promosi dan  mutasi
(5) keberhasilan Manajemen SDM
c. Manajemen Kurikulum: Secara operasional proses manajemen kurikulum mecakup 3 pokok kegiatan, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan Pendidik, peserta didik, dan seluruh civitas Akademika.
d. Manajemen atau pengelolaan sarana dan prasarana
Dalam pengelolaan sarana dan prasarana sekolah sangat penting karena merupakan Komponen-Komponen dalam menunjang kegiatan pembelajaran.
f. Manajemen atau pengelolaan pembiayaan/Keuangan
Manajemen pembiayaan/Keuangan memiliki tujuan untuk memberikan pelayanan secara maksimal dalam hal pembiayaan-pembiayaan sekolah yang meliputi biasa internal dan eksternal dan pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan
g. Manajemen atau pengelolaan organisasi
adapun cara yang efektif dan dapat dilaksanakan oleh sekolah dalam rangka mengembangkan organisasi sekolah adalah dengan adanya upaya pembagian kerja dan tata kerja di sekolah
h. Manajemen atau pengelolaan humas dan kerjasama.
Manajemen humas dan kerjasama memiliki tujuan untuk memperoleh simapati dari masyarakat secara umum serta publiknya pada khususnya, sehingga terwujudnya kegiatan operasional sekolah atau pendidikan dengan efektif dan efisien, demi tercapainya tujuan  dari pendidikan yang telah ditentukan kegiatan-kegiatan manajemen hubungan sekolah dan masyarakat (HUMAS) adalah sebagai berikut:
1. Analisis kebutuhan atau keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan  sekolah
2. menyusun program ataukegiatan untuk humas.
3. Pembagian tugas, dapat melaksanakan program humas.
4. terciptanya hubungan sekolah dengan orang tua atau wali murid
5. mengajak orang tua menyediakan lingkungan belajar yang efektif
6. Mengadakan komunikasi atau diskusi dengan tokoh masyarakat
7. Memulai kerjasama anatar sekolah dan instansi pemerintah atau swasta
8. Mengadakan kerjasama dengan organisasi sosial keagamaan (ORMAS)
9. melihat hubungan sekolah dengan masyarakat
10. Penilaian hasil kerja dari hubungan sekolah dengan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar