Ahmad Aldi Yanto
11901295
PAI 4C
magang 1
KULTUR SEKOLAH
Kultur sekolah adalah sebuah kebudayaan atau suatu pola pemahaman tentang pola sikap, norma, nilai dan tradisi. Dengan adanya kultur sekolah ini kita dapat melihat bagaimana sekolah dapat berperan sebagai tempat penyatuan kultur atau budaya yang ada di sekolah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa di sekolah tentunya ada beragam kultur. Pertanyaannya, apakah bisa sekolah menyatukan siswa dari beragam kultur tersebut?
Kultur sekolah juga dapat dijelaskan sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah. Kultur sekolah juga dapat memperbaiki kinerja siswa jika kultur sekolah sehat, bersatu, kuat, positif dan professional, artinya kultur sekolah dapat menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah. Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan.
Peran seorang guru sebagai pembentuk kultur sekolah tentunya tidak mudah, butuh waktu yang cukup lama untuk mereka bisa menyatukan perbedaan yang ada pada setiap siswa sehingga tebentuknya moral, nilai dan tingkah laku yang baik dari siswa.
Untuk membentuk moral, nilai dan perilaku yang baik guru harus sering melakukan pengarahan kepada siswa agar sering melakukan kegiatan yang mengarah kepada kerja sama, dan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa untuk saling mengenal, seperti membentuk kelompok berkebun, dan membentuk organisasi lainnya, nah jadi di saat berkebun siswa dapat melakukan kerja sama saling membantu dan mengenal masing-masing suku dan ras teman-temannya. Disaat siswa menjalankan tugas nya guru harus tetap mengawasi dan memberikan arahan kepada siswa, karena jarang sekali siswa bisa langsung menerima perbedaan yang ada pada temannya, biasanya teman yang memiliki perbedaan menjadi bahan buliaan atau candaan, seperti perbedaan pada kulit yang hitam, rambut yang keriting atau bahkan bentuk wajah yang unik.
Untuk mengatasi permasalahan ini, guru tentunya harus menjadi peran utama dalam mengatasinya, guru harus bisa memberikan penjelasan dari pengertian perbedaan ras, suku dan agama kepada siswa, kemudian guru juga harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperkenalkan diri. Setelah memperkenalkan diri siswa harus diminta untuk saling menyapa dimana pun mereka bertemu.
Dengan adanya penjelasan dari guru, maka akan ada perubahan dari pola berfikir siswa mengenai perbedaan. Perbedaan sering kali dianggap sebagai masalah bagi setiap orang yang cara berfikir nya sangat minim dan ajaran kultur yang di dapat mungkin tidak terlalu luas.
Kepala sekolah tentunnya mendapatkan bantuan dari para stap-stap guru yang lainnya untuk menetapkan peraturan agar bisa berlaku sesuai yang diharapkan. Setiap guru di mata pelajaran harus masing-masing memiliki peraturan tertentu untuk siswa nya dan disertai dengan kosekuensi nya bagi yang melanggar peraturan.
Kultur sekolah juga dapat kita temukan dalam bentuk tradisi, nah tradisi di sekolah tentunya memiliki perbedaan dengan sekolah lainnya. Sering kali kita menemukan tradisi berupa tarian ketika menyambut kedatangan orang-orang penting yang berkunjung di sekolah. Biasanya tarian-tarian tersebut merupakan tarian Dayak atau Melayu yang sering digunakan oleh sekolah.
Selain dengan tarian, mengucapkan salam juga sebagai tradisi yang ada di sekolah, biasanya guru yang selalu mengucapkan salam ketika masuk kelas dan harus bersalaman ketika hendak pulang sekolah. Ada juga sekolah yang memiliki tradisi menggunakan pakaian sebagai tradisi dari sekolah mereka, misalnya pada hari selasa mereka harus menggunakan pakaian batik yang seharusnya digunakan pada hari Rabu dan Kamis oleh sekolah lain. Nah, jadi ini lah yang dimaksud oleh kultur sekolah, dimana masing-masing sekolah memiliki kultur yang berbeda.
Kultur sekolah bisa dikatakan berhasil dalam membentuk kultur sekolah yang positif atau yang bermutu. Hasil kultur yang positif diantaranya:
1) Kultur yang mampu menghasilkan organisasi yang positif, yang membangun nilai-nilai kepercayaan bagi setiap orangnya.
2) Kultur sekolah harus dapat memberikan hasil yang baik kepada siswa, seperti mengajarkan perbedaan yang ada di setiap orang.
3) Kultur sekolah harus bisa memberikan perubahan sikap pada siswa, menjadikan siswa memiliki pola sikap yang baik.
4) Kultur sekolah harus mampu menciptakan siswa yang bisa menghargai orang lain.
Adanya kultur yang positif tentunya ada pula kultur yang negatif, dimana ini dapat memberikan dampak yang buruk kepada siswa, diantaranya:
1) Kultur sekolah yang tidak mampu menciptakan hasil yang positif, seperti organisasi yang tidak bisa berjalan dengan lancar, yang tidak bisa di percaya.
2) Kultur sekolah yang tidak berhasil mengajarkan siswa nya untuk saling menghargai
3) Kultur yang tidak ada perubahan dalam pembentukkan pola sikap siswa yang baik
4) Kultur yang tidak berhasil menciptakan siswa untuk menghargai orang lain.
Selain dari tradisi-tradisi yang ada disekolah, siswa juga harus dituntut untuk meningkatkan motivasi belajar. Dalam meningkatkan motivasi belajar, guru harus menjadi peran utama dalam mengawasi dan turut mempraktikan hal tersebut. Ketika kultur sekolah menginginkan siswa yang termotivasi dalam belajar maka yang harus termotivasi terlebih dahulu adalah guru, bagaimanapun guru selalu menjadi panutan bagi siswa nya. Selain termotivasi untuk belajar, kultur sekolah juga harus dapat menciptakan siswa yang disiplin. Disiplin dalam hal yang baik, seperti masuk kelas tepat waktu, mengunakan seragam sekolah yang rapi serta mendisiplinkan peraturan yang ada.
Nah, untuk menentukan sekolah apakah berhasil dalam menyatukan kultur dari beragam banyaknya siswa, tentu kita dapat melihat hasil yang didapatkan oleh kultur sekolah tersebut dalam membentuk kultur sekolah yang baik dan bernilai positif. Jika kultur sekolah di bentuk dengan adanya kerjasama antara sesama guru, maka besar kemungkinan kultur sekolah dikatakan berhasil.
Kultur sekolah yang berhasil dapat dilihat dari para siswa dan guru, karena kultur sekolah ini menyatukan sebuah perbedaan. Kultur sekolah juga harus berkembang di masyarakan sekeliling, sekiranya masyarakat sekeliling merasa terganggu dengan adanya tradisi yang dilakukan oleh sekolah, maka masyarakat memiliki kewajiban untuk mengajukan usulan yang sekiranya dapat membuat mereka tidak merasa terganggu oleh tradisi yang sekolah jalankan.
Lebih baiknya kultur sekolah harus dapat berkerjasama dengan masyarakat sekeliling agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan membuat nyaman kepada sesama tidak hanya kepada satu pihak saja. Karena, jika kultur sekolah membuat masyarakat sekeliling merasa terganggu maka kultur sekolah tidak dapat dikatakan berhasil. Untuk menghindari kegagalan dalam kultur sekolah, maka perlu yang namanya kerja sama, seperti yang sudah dijelaskan diatas.
Sejalan dengan berbagai pengertian budaya atau kultur yang dikemukakan dalam uraian sebelumnya maka dapat dipahami bahwa konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah lebih menekankan kepada penghayatan segi-segi, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan yang ini cenderung tampak ingin menciptakan hal-hal besar dengan mengubah struktur untuk mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataanya terlalu kuat untuk direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sebaliknya pendekatan kultur justru mengusahakan agar muncul orang-orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai-nilai yang bersifat positif. Oleh karena banyak kalangan meyakini bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan IQ yang tinggi semata melainkan dipengaruhi juga oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur-unsur kepribadian.
Wardiman Djoyonegoro (Suyanto & Abbas, 2001: 148) menyatakan bahwa berbagai perbekalan yang diberikan di sekolah oleh guru pada hakikatnya untuk menginternalisasikan tiga nilai dasar, masing-masing adalah: (1) membangun atau membentuk siswa yang memiliki orientasi ke depan dengan ciri-ciri, antara lain luwes, tanggap terhadap perubahan, dan memiliki semangat berinovasi; (2) senantiasa punya hasrat untuk mengeksploitasi lingkungan dan kekuatan-kekuatan alam, artinya tidak tunduk pada nasib, senatiasa berusaha memecahkan masalah dan berusaha mengusai iptek, dan (3) memiliki orientasi terhadap karya yang bermutu atau punya achievement orientation, antara lain ditandai oleh penilaian yang tinggi terhadap hasil karya. Untuk menuju internalisasi nilai-nilai dimaksud siswa harus dipacu motivasinya untuk berprestasi dan semangat belajarnya demi terwujudnya kinerja siswa yang dicita-citakan setiap sekolah.