Rabu, 23 Juni 2021

Kultur Sekolah

Ahmad Aldi Yanto

11901295

PAI 4C

magang 1

KULTUR SEKOLAH

    Kultur sekolah adalah sebuah kebudayaan atau suatu pola pemahaman tentang pola sikap, norma, nilai dan tradisi. Dengan adanya kultur sekolah ini kita dapat melihat bagaimana sekolah dapat berperan sebagai tempat penyatuan kultur atau budaya yang ada di sekolah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa di sekolah tentunya ada beragam kultur. Pertanyaannya, apakah bisa sekolah menyatukan siswa dari beragam kultur tersebut?

            Kultur sekolah juga dapat dijelaskan sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah. Kultur sekolah juga dapat memperbaiki kinerja siswa jika kultur sekolah sehat, bersatu, kuat, positif dan professional, artinya kultur sekolah dapat menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah. Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan.

    Di sekolah, tentunya ada seorang guru yang berperan sebagai pembimbing atas apa yang dilakukan oleh para siswa, dan sekolah merupakan tempat belajar, berinteraksi sesama teman yang memiliki beragam kultur. Sekolah juga dapat diartikan sebagai sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat sekumpulan orang-orang yang masing-masing mempunyai tujuan, mereka terhimpun ke dalam satu susunan yang masing-masing mempunyai tugas dan tangung jawab.  Dengan dibangunnya sekolah akan lebih memudahkan untuk mengenal satu sama lain dan membentuk kultur sekolah yang baik. Siswa-siwa yang ada di sekolah tentunya memiliki kultur masing-masing diantara mereka dan memiliki sikap dan perilaku yang berbeda. Sekolah harus bisa menyelesikan permasalahan mengenai kultur, diantaranya sekolah harus dibentuk menjadi tempat yang nyaman dan tenang sehingga masyarakat sekeliling tidak merasa terganggu dan begitu juga dengan siswa-siswa nya harus dibentuk dengan perilaku yang baik, dimana semua siswa harus diajarkan untuk bisa saling menerima perbedaan baik dalam bentuk agama maupun suku yang mereka anut.

            Peran seorang guru sebagai pembentuk kultur sekolah tentunya tidak mudah, butuh waktu yang cukup lama untuk mereka bisa menyatukan perbedaan yang ada pada setiap siswa sehingga tebentuknya moral, nilai dan tingkah laku yang baik dari siswa.

            Untuk membentuk moral, nilai dan perilaku yang baik guru harus sering melakukan pengarahan kepada siswa agar sering melakukan kegiatan yang mengarah kepada kerja sama, dan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa untuk saling mengenal, seperti membentuk kelompok berkebun, dan membentuk organisasi lainnya, nah jadi di saat berkebun siswa dapat melakukan kerja sama saling membantu dan mengenal masing-masing suku dan ras teman-temannya. Disaat siswa menjalankan tugas nya guru harus tetap mengawasi dan memberikan arahan kepada siswa, karena jarang sekali siswa bisa langsung menerima perbedaan yang ada pada temannya, biasanya teman yang memiliki perbedaan menjadi bahan buliaan atau candaan, seperti perbedaan pada kulit yang hitam, rambut yang keriting atau bahkan bentuk wajah yang unik.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, guru tentunya harus menjadi peran utama dalam mengatasinya, guru harus bisa memberikan penjelasan dari pengertian perbedaan ras, suku dan agama kepada siswa, kemudian guru juga harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperkenalkan diri. Setelah memperkenalkan diri siswa harus diminta untuk saling menyapa dimana pun mereka bertemu.

Dengan adanya penjelasan dari guru, maka akan ada perubahan dari pola berfikir siswa mengenai perbedaan. Perbedaan sering kali dianggap sebagai masalah bagi setiap orang yang cara berfikir nya sangat minim dan ajaran kultur yang di dapat mungkin tidak terlalu luas.

                Di sekolah murid harus selalu menjaga kultur yang ada di sekolah, jangan sampai kultur yang ada di sekolah menjadi pembahasan yang tidak baik di sekeliling masyarakat sekolah terutama sikap dan tingkah laku, dimana sikap dan tingkah laku ini salah satu dari pengertian kultur dan akan sering di nilai oleh orang sekeliling. Jika tingkah laku yang di tunjukkan oleh siswa tidak baik maka yang menjadi bahan pembicaraan oleh masyarakat sekitar yaitu guru, terutama kepala sekolah. Kepala sekolah adalah orang yang paling banyak berperan penting dalam sekolah, ia bisa menetapkan peraturan yang harus di tertibkan kepada siswa, jadi jika salah satu dari siswa yang tidak taat peraturan, maka yang menjadi bahan kritikan pertama biasanya kepala sekolah, mengapa harus kepala sekolah? karena kepala sekolah yang menetapkan maka kepala sekolah lah yang mengarahkan siswa untuk bisa mentaati peraturan tersebut.

            Kepala sekolah tentunnya mendapatkan bantuan dari para stap-stap guru yang lainnya untuk menetapkan peraturan agar bisa berlaku sesuai yang diharapkan. Setiap guru di mata pelajaran harus masing-masing memiliki peraturan tertentu untuk siswa nya dan disertai dengan kosekuensi nya bagi yang melanggar peraturan.

            Kultur sekolah juga dapat kita temukan dalam bentuk tradisi, nah tradisi di sekolah tentunya memiliki perbedaan dengan sekolah lainnya. Sering kali kita menemukan tradisi berupa tarian ketika menyambut kedatangan orang-orang penting yang berkunjung di sekolah. Biasanya tarian-tarian tersebut merupakan tarian Dayak atau Melayu yang sering digunakan oleh sekolah.

            Selain dengan tarian, mengucapkan salam juga sebagai tradisi yang ada di sekolah, biasanya guru yang selalu mengucapkan salam ketika masuk kelas dan harus bersalaman ketika hendak pulang sekolah. Ada juga sekolah yang memiliki tradisi menggunakan pakaian sebagai tradisi dari sekolah mereka, misalnya pada hari selasa mereka harus menggunakan pakaian batik yang seharusnya digunakan pada hari Rabu dan Kamis oleh sekolah lain. Nah, jadi ini lah yang dimaksud oleh kultur sekolah, dimana masing-masing sekolah memiliki kultur yang berbeda.

            Kultur sekolah bisa dikatakan berhasil dalam membentuk kultur sekolah yang positif atau yang bermutu. Hasil kultur yang positif diantaranya:

1)      Kultur yang mampu menghasilkan organisasi yang positif, yang membangun nilai-nilai kepercayaan bagi setiap orangnya.

2)      Kultur sekolah harus dapat memberikan hasil yang baik kepada siswa, seperti mengajarkan perbedaan yang ada di setiap orang.

3)      Kultur sekolah harus bisa memberikan perubahan sikap pada siswa, menjadikan siswa memiliki pola sikap yang baik.

4)      Kultur sekolah harus mampu menciptakan siswa yang bisa menghargai orang lain.

Adanya kultur yang positif tentunya ada pula kultur yang negatif, dimana ini dapat memberikan dampak yang buruk kepada siswa, diantaranya:

1)      Kultur sekolah yang tidak mampu menciptakan hasil yang positif, seperti organisasi yang tidak bisa berjalan dengan lancar, yang tidak bisa di percaya.

2)      Kultur sekolah yang tidak berhasil mengajarkan siswa nya untuk saling menghargai

3)      Kultur yang tidak ada perubahan dalam pembentukkan pola sikap siswa yang baik

4)      Kultur yang tidak berhasil menciptakan siswa untuk menghargai orang lain.

Selain dari tradisi-tradisi yang ada disekolah, siswa juga harus dituntut untuk meningkatkan motivasi belajar. Dalam meningkatkan motivasi belajar, guru harus menjadi peran utama dalam mengawasi dan turut mempraktikan hal tersebut. Ketika kultur sekolah menginginkan siswa yang termotivasi dalam belajar maka yang harus termotivasi terlebih dahulu adalah guru, bagaimanapun guru selalu menjadi panutan bagi siswa nya. Selain termotivasi untuk belajar, kultur sekolah juga harus dapat menciptakan siswa yang disiplin. Disiplin dalam hal yang baik, seperti masuk kelas tepat waktu, mengunakan seragam sekolah yang rapi serta mendisiplinkan peraturan yang ada.

Nah, untuk menentukan sekolah apakah berhasil dalam menyatukan kultur dari beragam banyaknya siswa, tentu kita dapat melihat hasil yang didapatkan oleh kultur sekolah tersebut dalam membentuk kultur sekolah yang baik dan bernilai positif. Jika kultur sekolah di bentuk dengan adanya kerjasama antara sesama guru, maka besar kemungkinan kultur sekolah dikatakan berhasil.

Kultur sekolah yang berhasil dapat dilihat dari para siswa dan guru, karena kultur sekolah ini menyatukan sebuah perbedaan. Kultur sekolah juga harus berkembang di masyarakan sekeliling, sekiranya masyarakat sekeliling merasa terganggu dengan adanya tradisi yang dilakukan oleh sekolah, maka masyarakat memiliki kewajiban untuk mengajukan usulan yang sekiranya dapat membuat mereka tidak merasa terganggu oleh tradisi yang sekolah jalankan.

Lebih baiknya kultur sekolah harus dapat berkerjasama dengan masyarakat sekeliling agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan membuat nyaman kepada sesama tidak hanya kepada satu pihak saja. Karena, jika kultur sekolah membuat masyarakat sekeliling merasa terganggu maka kultur sekolah tidak dapat dikatakan berhasil. Untuk menghindari kegagalan dalam kultur sekolah, maka perlu yang namanya kerja sama, seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Sejalan dengan berbagai pengertian budaya atau kultur yang dikemukakan dalam uraian sebelumnya maka dapat dipahami bahwa konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah lebih menekankan kepada penghayatan segi-segi, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan yang ini cenderung tampak ingin menciptakan hal-hal besar dengan mengubah struktur untuk mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataanya terlalu kuat untuk direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sebaliknya pendekatan kultur justru mengusahakan agar muncul orang-orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai-nilai yang bersifat positif. Oleh karena banyak kalangan meyakini bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan IQ yang tinggi semata melainkan dipengaruhi juga oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur-unsur kepribadian.

Wardiman Djoyonegoro (Suyanto & Abbas, 2001: 148) menyatakan bahwa berbagai perbekalan yang diberikan di sekolah oleh guru pada hakikatnya untuk menginternalisasikan tiga nilai dasar, masing-masing adalah: (1) membangun atau membentuk siswa yang memiliki orientasi ke depan dengan ciri-ciri, antara lain luwes, tanggap terhadap perubahan, dan memiliki semangat berinovasi; (2) senantiasa punya hasrat untuk mengeksploitasi lingkungan dan kekuatan-kekuatan alam, artinya tidak tunduk pada nasib, senatiasa berusaha memecahkan masalah dan berusaha mengusai iptek, dan (3) memiliki orientasi terhadap karya yang bermutu atau punya achievement orientation, antara lain ditandai oleh penilaian yang tinggi terhadap hasil karya. Untuk menuju internalisasi nilai-nilai dimaksud siswa harus dipacu motivasinya untuk berprestasi dan semangat belajarnya demi terwujudnya kinerja siswa yang dicita-citakan setiap sekolah.


Rabu, 16 Juni 2021

Manajemen Sekolah

 Nama : Ahmad Aldi Yanto

Nim : 11901295

Kelas : PAI 4 C

Makul : Magang 1

                       Manajemen sekolah

Bab 1

A. Konsep manajemen berbasis sekolah          

      Sebelum saya menjelaskan panjang lebar ada baiknya kita harus mengetahui dulu apa si manajemen itu? Mengapa harus ada manajemen disekolah? Dan lain-lain

Oke dari yang saya baca saya akan menjelaskan apa itu manajemen? dan mengapa harus ada manajemen disekolah? Arti dari Manajemen itu sendiri ialah mengelolah nah dalam mengelolah sesuatu hal maka perlu adanya proses dalam mengatur  segala sesuatu dengan tujuan pendidikan secara menyeluruh yang dapat dikerjakan oleh individu maupun kelompok.

Adapun manajemen sekolah bermutu ialah salah satu dari pada model penggelolaan secara otonomi atau bisa disebut dengan pemerintah sendiri. Maksud nya pemerintah daerahlah yang memiliki hak, wewenang dan kewajiban pemerintah yang mengaturnnya maka pihak madrasah maupun kepala sekolah untuk mengambil kebijakan yang bersifat ikut sertaan sesuai dengan pemerintah. 

Secara ontologis yang saya baca bahwa antara manajemen sekolah dengan manajemen pendidikan itu memiliki pengertian sama,  mengapa karena antara manajemen sekolah dan manajemen pendidikan itu banyak sekali persamaannya.  Sampai-sampai kita pun sulit untuk membedakan antara manajemen sekolah dengan manajemen pendidikan. kemudian ruang lingkup dari pada pendidikan itu merupakan garapan atau bisa disebut dengan mengerjaankan pekerjaan dari ruang lingkup manajemen sekolah . Manajemen yang terstruktur akan menghasilkan organisasi yang berjalan dan terkonsep adanya. 

Adapun beberapa konsep dari pada manajemen sekolah yang bermutu yaitu menciptakan hubungan antara sekolah dengan orang tua dari wali murid maka dengan hubungan tersebut diharapkan antara sekolah dengan orang tua dapat berhubungan baik dengan seiring berjalannya waktu. Hubungan yang baik akan membuat masyarakat lebih peka dan lebih bertanggung jawab lagi agar terciptannya tujuan bersama dengan hubungan itu maka dapat memajukan sekolah. Dalam peciptaan hubungan tersebut maka dapat memberikan gambaran kepada masyarakat. Adapun salah satu dari tujuan manajemen sekolah yang bermutu ialah pendidik harus berinovasi penting pendidikan dalam berinovasi dapat menciptakan sesuatu yang baru atau melakukan pembeharuan yang ada agar terciptannya pendidikan yang bermutu.

B. Prinsip manajemen sekolah

Ada 4 prinsip dari pada manajemen sekolah yaitu:

1. Equifinality

Sebelum saya menjelaskan ada baiknya saya menjelaskan apa itu equifinality yaitu berupa tujuan yang memiliki pencapaian. Nah prinsip yang digunakan equifinality yaitu berdasarkan teori modern dari prinsip ini menggunakkan beberapa metode yang berbeda untuk pencapai tujuannya. 

2. Decentralizion 

Decentralizion yang bearti desentralisasi adalah proses yang penting dalam reformasi. Prinsip dari pada  desentralisasi ini sangat konsisten dengan prinsip yang menyatakan keadaan akhir sehingga tidak bergantung .

3. Self-management system

Self-management system atau sistem memanajemen diri mengapa perlu adanya sistem menajemen diri karena individu maupun kelompok bisa mengendalikan diri maka manajemen sekolah yang bermutu yaitu menyadari bahwa pentingnya sekolah mengelolah kebijakan dengan mandiri atau sendiri. Prinsip ini sama dengan prinsip yang diatas. Prinsip yang digunakan  self-management system yaitu prinsip ketika ada masalah dapat menyelesaikan secara sendiri.

4. Human initiative 

Manusia atau orang itu merupakan sumber daya dengan ini dapat mengembangkan sumber daya manusia. Prinsip ini mengakui manusia itu bukan tidak bisa berubah melainkan manusia itu dapat berubah dengan cara menyesuaikan diri.

C. Ruang kajian manajemen sekolah

Manajemen sekolah juga perlu adanya ruang untuk mengkaji, untuk mengetahui ruang lingkup dari pada manajemen sekolah ada 4 sudut pandangnya yaitu:

1. Berdasarkan obyek garapan 

Dalam sudut pandang ini yang berkerja keseluruh aktifitas yang memanajemen sekolah dengan cara langsung maupun tidak langsung yang terlibat kedalam kegiatan mendidik yaitu : manajemen peserta didik, manajemen personil sekolah, manajemen kurikulum, manajemen sarana dan prasarana, manajemen tata laksana, manajemen pembiayaan/keuangan,

2. Berdasarkan fungsi manajemen

Yang pertama adalah perencanaan, Perencanaan ini sebuah proses yang memikirkan dan menetapkan kegiatan-kegiatan. Yang kedua yaitu perorganisasian merupakan  sekelompok orang yang ingin mencapai tujuan bersama yang ketiga adalah pengarahan-pengarahan ini merupakan bukan sesuatu usaha yang diarahkan oleh atau dipimpin oleh individu yang memberikan penjelasan atau pun bimbingan strategi mengajar yang keempat adalah pengkoordinasian daun merupakan suatu usaha yang dipimpin oleh oleh pimpinan untuk mengatur segala kegiatan namun kegiatan itu akan dilakukan oleh bawahannya yang kelima adalah komunikasi merupakan segala usaha yang dilakukan oleh pimpinan yang menyebarluaskan informasi demi mencapai tujuan bersama yang keenam adalah pengawasan merupakan yang dilakukan oleh pimpinan yang itu pimpinan dapat mengetahui atau semua pelaksanaannya dilakukan tuh harus diketahui oleh pimpinan 

3. Wilayah belajar 

untuk wilayah yang pertama namanya aja ya itu manajemen pendidikan seluruh negara Apa itu manajemen ini untuk untuk urusan nasional bukan hanya pelaksanaan pendidikan di sekolah saja namun juga di luar sekolah seperti penelitian untuk wilayah kerja yang kedua adalah Manajemen Pendidikan satu provinsi manajemen ini meliputi wilayah kerja dengan satu provinsi namun akan dibantu oleh petugas pendidikan yang ada di Kabupaten maupun Kecamatan untuk wilayah kerja yang ketiga yaitu Manajemen Pendidikan satu  kabupaten atau kota manajemen ini untuk mengurus semua pendidikan yang memuat jenjang dan jenis untuk wilayah kerja yang keempat yaitu manajemen pendidikan satu unit kerja untuk wilayah kerja ini yang memberatkan pada kerja yang langsung menangani pekerjaan mendidik untuk wilayah kerja yang kelima yaitu manajemen kelas wilayah manajemen kelas dengan isinya Mengapa saya bilang begitu kalau manajemen kelas ini dapat mengelola kelas.

4. Berdasarkan pelaksanaan

D. Fungsi-fungsi manajemen

Fungsi manajemen ini merupakan jenis dari Tugas atau kegiatan dari manajemen sehingga memiliki kekhasan Kayaknya udah ada 6 fungsi daripada manajemen yang pertama yaitu perencanaan perencanaan bisa dilihat dari pada seperti tindakan tindakan awal proses daripada manajemen dengan perencanaan ini dapat mengkoordinasikan dengan baik. untuk fungsi manajemen yang kedua yaitu perorganisasian sekelompok orang yang melakukan kegiatan Demi apa tujuan bersama sehingga tercapai tujuan tersebut. Untuk fungsi manajemen yang ketiga yaitu menggerakkan merupakan suatu tindakan yang yang dapat mengusahakan semua anggotanya untuk mencapai perencanaan yang telah ditetapkan. Untuk fungsi manajemen yang keempat adalah kepemimpinan ini yang memimpin adalah Kepala Sekolahnya indikator yang baik merupakan indikator yang dipimpin oleh kepala sekolah sehingga Pak sekolah dapat mengelola organisasi dalam memimpin Untuk fungsi manajemen yang kelima adalah pengawasan segala upaya yang memastikan bahwa sehingga dapat mencapai tujuan Untuk fungsi manajemen yang keenam yaitu penyusunan seperti pengembangan sumber daya.  

Bab 2

Mengelola sekolah bermutu

proses penerapan manajemen sekolah  Penerapan manajemen sekolah harus melibatkan seluruh pengelola pendidikan seperti sekolah pendidik komite tokoh masyarakat Sistem tata kelola sekolah Asisten daripada kelas sekolah yaitu melaksanakan visi dan misi strategi yang telah yang harus diterapkan dengan baik Kepemimpinan sekolah sangat menentukan kemajuan sekolah mengapa karena dengan baik maka sekolah juga bisa menjadi maju tantangan tangan seorang pemimpin seperti kepala sekolah itu harus memimpin dengan baik Kepala sekolah ini berfungsi sebagai motivator untuk menciptakan tim yang bagus bekerjasama sehingga tata kelola manajemen sekolah itu dapat bekerja dengan baik Kepala Sekolah yang mendorong dan mengembangkan kemampuan seluruh daripada pendidik staf tata usaha dan karyawan sehingga dapat memberikan inovasi dan terobosan program yang terbaru untuk kegiatan sekolah agar maju.

Bab 3 

Implementasi sistem informasi manajemen sekolah

 Pengertian sistem sistem itu memiliki dua pendekatan yang pertama yaitu pendekatan sistem yang menekankan ke prosedurnya yang kedua yaitu menekankan pada elemen dan komponennya titik ciri utama dari pada sistem ini itu berorientasi untuk mencapai tujuan tertentu sehingga dengan tujuan tertentu dapat menciptakan nilai dengan mengkombinasikan kan atau mencampurkan sumber daya dengan cara-cara tertentu sistem ini sebenarnya mempunyai tujuan namun yang biasanya dijadikan pertama sehingga perlu menentukan urutan prioritas Untuk yang kedua yaitu pengertian data-data ini merupakan sebuah benda atau aktivitas transaksi yang tidak memiliki makna tapi dapat mempengaruhi pemakai Yang ketiga yaitu pengertian sama si informasi itu merupakan sebuah ah atau data yang berguna untuk yang menerima sumber informasi itu adalah data-data saya disebut dengan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian yang ada titik faktor utama dalam memenangkan persaingan dalam dunia pendidikan bukan hanya terletak pada suatu program yang ada atau sarana dan anggaran yang anggaran belakang tetapi seharusnya kita tuh bisa memaksimalkan kekuatan efisiensi motivasi Inovasi dan keyakinan untuk meraih keberhasilan bersama dengan kebahasaan itu kita dapat mengelola suatu lembaga pendidik yang tidak hanya pada proses pembelajaran saja tetapi didukung oleh faktor penting lainnya pola dari manajemen dalam setiap aspek pendidikan.

Dengan membangun manajemen yang sistematis atau terstruktur maka perlu adanya komponen pendidikan yang daya saingnya yaitu suatu lembaga pendidik baik sekolah maupun Madrasah sehingga dapat berkembang dan bertumbuh ada tiga hal yang dapat dilakukan sekolah untuk meningkatkan daya saing, Yang pertama yaitu operational Excellence Ini juga termasuk satu nilai bahwa setiap lembaga itu harus senantiasa menjaga Efisiensi dan efektivitas nya dalam menjaga kualitas dari berlangsung setiap komponen dan tahapan dari keberhasilan suatu pendidikan.

  Untuk yang kedua yaitu customer intimacy merupakan suatu prinsip yang harus mampu memenuhi keinginan suatu lembaga dan harapan setiap orang tua yang orang tua tersebut mempercayai sepenuhnya kepada suatu sekolah Untuk yang ketiga yaitu produc leadership Merupakan prinsip yang harus dikembangkan oleh pengelola sekolah dengan cara konsisten dalam melakukan berbagai inovasi di setiap aspek pendidikan. Ada beberapa konsep sistem informasi manajemen dalam pendidikan yaitu pemahaman yang utuh tentang sistem daripada informasi manajemen yang banyak sekali digunakan oleh berbagai bidang baik itu bisnis pemerintah ataupun politik maka dari itu kita harus pandai memahami secara utuh konsep daripada informasi dari manajemen Maka dari penjelasan itu dapat saya simpulkan bahwa informasi dari pada manajemen pendidikan ialah suatu pengolahan data pendidikan yang secara menyeluruh dan yang integrasi yang mampu mengelola berbagai data agar proses pembelajaran bisa efektif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Mengimplementasikan sistem informasi manajemen pada saat ini di dalam pendidikan merupakan sebuah kebutuhan utama untuk meningkatkan daya saing suatu sekolah sehingga proses pendidikan daripada Sisi pembelajaran Maka sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dan tujuan pendidikan.


Rabu, 09 Juni 2021

Kultur sekolah

 Nama : Ahmad Aldi Yanto

Nim : 11901295

Makul : magang 1

1.      Pengertian Budaya

Dalam suatu organisasi yang termasuk ke dalamnya lembaga pendidikan, budaya diartikan sebagai tindakan, yaitu keyakinan dan tujuan yang dianut bersama yang dimiliki oleh anggota organisasi yang potensial membentuk perilaku mereka dan bertahan lama meskipun sudah terjadi pergantian anggota. Contohnya dalam lembaga pendidikan, budaya ini seperti budaya saling menyapa, saling menghargai, toleransi dan sebagainya. (Fauziah, 2018: 10)

Kotter dan Hessket dalam Fauziah (2018:10) mendefinisikan kata “budaya” sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Selain itu kebudayaan juga didefinisikan sebagai norma-norma perilaku yang disepakati oleh sekelompok orang untuk bertahan hidup dan berada bersama.

Schwartz dan Davis dalam Fauziah (2018:10-11) berpendpaat budaya merupakan suatu kesatuan keyakinan dan harapan yang diberikan oleh keseluruhan anggota organisasi. Keduanya dapat menciptakan norma dan kekuatan penggerak yang membentuk tingkah laku individual dan kelompok dalam organisasi tersebut. Sebagaimana ditegaskan Ndraha, budaya setiap orang berbeda dengan orang lain, budaya itu ansich tidak dapat disebut buruk dan baik, karena itu setiap orang atau kelompok adalah berbudaya. Kemudian dapat ditarik kesimpulan budaya adalah seperangkat asumsi, nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya.

2.      Pengertian Sekolah

Tirtarahardja dan La Sulo dalam Fauziah (2018:12) menyatakan bahwa sekolah sebagai pusat pendidikan untuk menyiapkan manusia menjadi individu, warga masyarakat, negara, dan dunia di masa depan. Sekolah diharapkan mampu mengembangkan potensi anak atau peserta didik, untuk meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Sedangkan Suwarno dalam Fauziah (2018:12) berpendapat bahwa sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak setelah memiliki pengalaman hidup di keluarga. Menurut Webster dalam Fauziah (2018:12) memberikan pendapat bahwa sekolah merupakan tempat atau institusi/lembaga yang secara khusus didirikan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar atau pendidikan. Dari beberapa definisi sekolah yang telah dijabarkan oleh beberapa para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sekolah merupakan salah satu institusi/lembaga pendidikan formal yang secara khusus didirikan untuk memberikan pelayanan dan menyelenggarakan proses sosialisasi atau pendidikan dalam rangka mempersiapkan manusia menjadi individu, warga masyarakat, negara dan dunia di masa yang akan datang.

 

3.      Pengertian Budaya Sekolah

Kultur sekolah (school culture) menurut Philips dalam Imtihan (2018: 31) diamknai sebagai kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencirikan sekolah. Pendekatan kultur dalam meningkatkan mutu saat ini mulai memperoleh Persian untuk melengkapi konsep pendekatan struktur yang telah lebih dulu berkembang dalam praktek pengelolaan sekolah. Menurut Sastrapratedja dalam Imtihan (2018: 31) "struktur" dan" perilaku" selama ini merupakan dua konsep yang sangat dominan dalam pendekatan pelatihan untuk memperbaiki kondisi Organisasi. Tetapi pendekatan ini tidak mampu Menjangkau "summer-sumber kemanusiaan" dalam suatu profesi. Oleh karena itu para para ahli mulai berpaling kepada "manajemen berbasis nilai". Pendekatan ini menekankan pada upaya mengembangkan hubungan kolegial, kepercayaan satu terhadap yang lain, saling pengertian dan mendukung. Itu semua pada gilirannya akan menjadi perbaikan yang saling berhubungan atau berkesinambungan dan pemberdayaan seluruh warga sekolah. Pendekatan budaya atau kultur juga menekankan pada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, dan riwayat sekolah, yang kesemuanya itu akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya.

Belakangan ini peningkatan kualitas pendidikan pada semua jenjang termasuk Sekolah Menengah Umum (SMU) yang kemudian menjadi tekad dan kesepkatan nasional sesuai amanat UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) No. 20 Tahun 2003. Selanjutnya diperlukan langkah-langkah dan tindakan nyata di tingkat sekolah, kelas dan masyarakat local tempat sekolah beroperasi. Perbaikan sistem persekolahan yang pada intiya adalah membangun sekolah dengan kekuatan utama sekolah yang bersangkutan. Sejalan dengan pendapat Zahromi, perbaikan mutu sekolah dengan demikian perlu memahami kultur sekolah, melalui pemahaman kultur sekolah, berfungsinya sekolah dapat dipahami, aneka permasalahan dapat diketahui, dan pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan. (Imtihan 2018: 31-32)

Membahas tentang kultur sekolah tidak terlepas dari pengkajian tentang modal budaya (culture capital). Pada pandangan sosiologis Pierre Bourdieu sebagai tokoh yang ahli dalam bidang modal budaya (Bourdieu dalam kusdaryani, dkk, 2016:126), menyatakan bahwa modal budaya merupakan selera bernilai budaya dan pola konsumsi yang mencakup rentangan luas properti seperti seni, pendidikan dan bentuk-bentuk bahasa. Di sisi lain, juga dijelaskan bahwa batasan modal budaya sebagai berbagai pengetahuan yang sah. Penjelasan modal budaya secara lebih detail juga disampaikan oleh Lee (Damsar,2012:197), yaitu sebagai kepemilikan kompetensi kultural tertentu, atau seperangkat pengetahuan kultural yang menyediakan bentuk konsumsi kultural yang dibedakan secara khusus dan klasifikasi rumit dari barang-barang kultural dan simbolis. Dari beberapa definisi yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa modal budaya merupakan kepemilikan kompetensi dan pengetahuan kultural yang menuntun selera bernilai budaya dan pola-pola konsumsi tertentu, yang dilembagakan dalam bentuk kualifikasi pendidikan. Menurut Deal & Peterson dalam Efianingrum (2013: 20-21) berpendapat bahwa kultur sekolah dan pimpinan sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam implementasi atau praktik kehidupan di sekolah. Ketika para pengambil kebijakan dan reformis pendidikan lebih menekankan pada pentingnya struktur dan  rasional, justru mengingatkan kepada kita bahwa perubahan pada aspek tersebut tidak sepenuhnya berhasil tanpa dukungan faktor kultural. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non-akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa.

Menurut Efianingrum (2013: 24) Sekolah memiliki peran dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, dalam Efianingrum, 2013: 24). Munculnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang  khas bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya. (Efianingrum 2013: 24)

Menurut Efianingrum (2013: 22) mengemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

a. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan di sekolah.

b. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non tenaga kependidikan, dan tenaga administrasi.

c. Kurikulum sekolah yang memuat gagasangagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

 d. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

4.      Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

Deal & Peterson dalam Efianingrum (2013: 24) memperluas kajian yang menunjukkan betapa berpengaruhnya kultur terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

a)      Visi dan Nilai (Vision and Values)

Berdasarkan pendapat Kouzes dan Posner dalam Locke yang kemudian dikutip oleh Efianingrum (2013: 24) yang mendefinisikan visi sebagai berikut “Vision as an ideal and unique image of the future”. Kemudian Hickman dan Silva dalam Efianingrum (2013: 24) yang mengemukakan bahwa visi adalah “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”. Sehingga dapat diartikan dan ditarik kesimpulan visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis/antropologis

b)      Upacara dan Perayaan (ritual and ceremony)

Menurut Efianingrum (2013: 25) Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah memiliki fungsi dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk mengisi kembali semangat dalam bentuk motivasi antar siswa yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah.

c)      Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu memiliki peran penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, romantisme masa lalu dapat menumbuhkan semangat untuk mewujudkan kejayaan di masa yang akan datang. (Efianingrum 2013: 25)

d)     Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Sekolah pada umumnya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang atau logo sekolah, motto, lagu (mars atau hymne), dan seragam sekolah yang menggambarkann visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.

 

5.      Aneka Praktik pengembangan kultur Sekolah

a.       Prestasi Akademik

Menurut (Efianingrum 2013: 28) menyatakan bahwa di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi dalam bidang akademik. Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua peserta didik cenderung lebih menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya.

b.      Non-Akademik

Prestasi non-akademik dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang mendukung dan menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku kemanusiaan. (Efianingrum 2013: 28)

c.       Karakter

Menurut Efianingrum (2013: 28) Karakter berkaitan dengan moral. Pendidikan untuk membangun karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan dan membangun kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar. Terdapat variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: kondusif bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain

d.      Kelestarian Lingkungan Hidup

Sejumlah sekolah di berbagai jenjang (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. (Efianingrum 2013: 28)


Sumber:

1.      Imtihan, Nurul. 2018. Kultur Sekolah dan Kinerja Peserta Didik MAN Yogyakarta III. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Vol. 6 No. 2, Agustus 2018. Dari file:///D:/Semester%204/Magang%201/kultur%20sekolah/839-Article%20Text-2182-1-10-20190709.pdf