Rabu, 21 April 2021

Kultur Sekolah

Nama :  Ahmad Aldi Yanto

Kelas : PAI 4C

NIM : 11901295

Assalamualaikum wr.wb 

Terimakasih teman teman ku sekalian kalian masih mau membaca apa yang saya tulis di blog saya ini. Baiklaah saya akan membuat lagi sebuah tulisan,  yang mana tulisan ini tak kala sama kaitannya dengan apa yang sebelumnya saya tulis,  yang mana saya kan menuliskan judul "Kultur Sekolah" 

Baik lah menurut pehamaan yang sudah saya baca dapat saya uraikan bahwasanya kultur berasal dari kata culture/budaya yang berarti pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang dan sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Sedangkan Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan yang mana di dalamnya terdapat proses belajar, tempat menerima dan memberi ilmu pengetahuan serta tempat pembentukan karakter. Sebagaimana pendapat Johansson, Brorwnlee, Cobb-Moore, Boulton-Lewis dan Aildwood (2011, hal. 109) yang dikutip oleh (Sobri, 2019) bahwa sekolah merupakan lembaga yang digunakan sebagai lembaga untuk mempersiapkan siswa di kehidupan yang akan datang (masa depan), baik secara akademis maupun secara agen moral dalam masyarakat. Jadi dapat disimpulkan bahwa Kultur Sekolah atau Budaya Sekolah merupakan bentuk kumpulan norma-norma, nilai-nilai, keyakinan, adat istiadat, yang tumbuh dan berkembang di sekolah sekaligus memberikan identitas yang berbeda dari sekolah lainnya. 

Tidak hanya itu kultur sekolah bisa mempengaruhi cara orang berpikir, merasa dan melakukan sesuatu. Oleh karena itu, Kultur Sekolah dapat menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non-akademik serta sebagai proses pembelajaran bagi siswa dalam menciptakan sekolah yang berkualitas (Ariefa, 2013). Kultur sekolah juga digunakan untuk menyelesaikan kesulitan dan masalah yang sedang dihadapi sekolah dalam menciptakan generasi yang cerdas dan berkarakter yang baik. Bukan hanya itu saja, Kultur sekolah juga dipergunakan untuk menghadapi problem dalam beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga nilai dan pendapat tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar memiliki pandangan tentang bagaimana seharusnya, berpikir, merasakan, dan bertingkah laku dalam menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada (Nursaptini, 2019).

Dalam hal ini yang saya nilai bahwasanya kultur sekolah memiliki peran membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan terlaksananya proses pembelajaran siswa. Kultur sekolah ini meliputi faktor material dan non-material. Faktanya menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tidak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturisasi semata, tidak cukup . Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural dapat dilakukan secara seimbang.

Dalam mengembangkan kultur sekolah, terdapat berbagai alternatif yang dapat disesuaikan dengan visi-misi dan kondisi sekolah, serta data diri siswa dalam berbagai kecerdasan. Sebagai sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur sekolah yang khas sesuai dengan potensi yang dimiliki, yang bisa menjadi identitas kultur masyakarat yang lebih luas. Dengan adanya variasi tersebut, setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk membanggakan kelebihan sekolah masing-masing yang unik. Dan semua ini tergantung peranan pimpinan sekolah  dalam menggerakkan dan mengkomunikasikan visi-misi sekolah kepada seluruh warga sekolah.

Dapat diketahui, bahwasanya sekolah itu merupakan suatu sistem yang memiliki tiga aspek pokok yang berkaitan dengan mutu sekolah yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah serta pembentukan karakter. Dengan berjalannya waktu dalam proses belajar mengajar pasti akan mengalami perubahan yang mana hal ini juga akan menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat. Oleh karenanya, semua unsur dalam sekolah harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya masing-masing. Semua unsur sekolah harus senantiasa memperbaharui ilmu pengetahuannya dan harus mengembangkan kultur yang mendukung semangat belajar, disiplin, jujur, mandiri, kreatif dan inovatif.

Kultur sekolah memiliki peranan dalam menghasilkan produktivitas kerja yang baik pada setiap individu dan unit kerja sekolah. Kultur sekolah dalam suatu lingkungan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan Kepala Sekolah. Contohnya, kepuasan dan ketidakpuasan bawahan dalam bekerja yang berhubungan dengan pola kepemimpinan. Dilaporkan oleh Farrow, Valensi, dan Basa (dalam Mahtja, 1991) dalam jurnal (Roemintoyo, 2013) yang menyatakan bahwa keberadaan Kepala Sekolah dengan pola perilaku serta modal kepemimpinannya sangat mempengaruhi kultur sekolah yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. Oleh karenanya, sekolah sebagai suatu institusi pendidikan perlu membangun hubungan yang kompak antar warga sekolah dengan cara yang positif untuk memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan.

Kebudayaan Sekolah ini adalah bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri khas yang unik sebagai sub-kebudayaan atau sub-culture (Nasution, 1999). Contohnya, dari segi pakaian, bahasa yang digunakan, kebiasaan yang dilakukan, kegiatan-kegiatan serta ritual atau upacara yang dilakukan.

Faktor yang membentuk kultur sekolah ini dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah itu sendiri, serta interaksi dengan warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, administrasi sekolah, tata usaha, antar individu sendiri bahkan materi pelajaran. Hal ini menyebabkan nilai, moral, sikap, dan perilaku siswa dapat tumbuh dan berkembang di sekolah.

Kultur sekolah memiliki unsur-unsur seperti:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan lingkungan sekolah

2. Warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, administrasi, tata usaha dan lain-lain)

3. Kurikulum sekolah

4. Letak, sarana dan prasarana sekolah.

Aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1. Visi dan nilai

Hal ini digunakan untuk menciptakan norma-norma yang positif dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambah semangat untuk memperbaiki sekolah. Sebagaimana Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”.

 Kutipan tersebut menjelaskan bahwa, visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau pengenalan masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis atau antropologis, dapat didefinisikan sebagai berikut: “A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986).

Oleh karena itu, nilai bukan hanya sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan kumpulan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi. Menurut Parsons & Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif.

2. Upacara dan Perayaan

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Hal ini digunakan untuk membangun hubungan baik antara warga sekolah dengan budayanya.

3. Sejarah dan cerita

Hal ini bertujuan untuk membangkitkan dan menumbuhkan semangat dalam berbudaya. Sejarah pada setiap budaya sekolah merupakan aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang ikut membentuk budaya yang berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, sejarah masa lalu dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.

4. Arsitektur dan artefak

Dalam hal ini biasanya disebut sarana dan prasarana sekolah yaitu arsitektur, motto, kata-kata mutiara dan tindakan yang di mana hal ini sangat efektif dalam menumbuhkan nilai dan semangat sekolah. Contohnya, poster, majalah dinding (Mading), spanduk, logo dan lain-lain.

Kultur sekolah memiliki beberapa implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal & Peterson (2011) dalam jurnal (Ariefa, 2013). Namun demikian, dalam pelaksanaannya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:

1. Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya fektivitas dan produktivitas sekolah). Yaitu guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan.

2. Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah). Yaitu di sekolah, budaya sangat menghargai kolegialitas dan kolaborasi.

3. Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).

4. Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para sttaf, siswa dan tenaga administrasi). Orang-orang termotivasi dan merasa berkomitmen pada suatu organisasi yang memiliki makna, nilai-nilai, sebuah tujuan yang baik.

5. Culture amplifies the energy, motivation, and vtality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat). Iklim sosial budaya berpengaruh terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf.

6. Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).

Mermacam-macam kultur sekolah yang dapat dikembangkan yaitu:

1. Prestasi akademik

Yang di dalamnya terkait dengan mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

2. Prestasi Non-akademik

Yang di dalamnya terkait prestasi berdasarkan minat dan bakat seperti, olahraga, seni, keterampilan dan lain-lain. Dengan adanya prestasi non-akademik siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku kemanusiaan. Selama ini kebanyakan sekolah hanya menganggap penting prestasi akademik siswa sehingga kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3. Karakter

Yang di dalamnya menggambarkan pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik atau karakter positif seperti nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah, anti kekerasan, toleransi, keterbukaan, kebijaksanaan, kemanfaatan, tolong menolong, kasih sayang, keberanian dan lain-lain.

4. Kelestarian lingkungan hidup

Yang di dalamnya terdapat upaya untuk menjaga dan menciptakan kelestarian lingkungan hidup seperti membuat “Sekolah Hijau” atau “Green School”. Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.

     Itulah beberapa contoh kultur sekolah yang dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Dan masih banyak lagi alternatif lain yang sesuai dengan karakteristik dan kreativitas masing-masing sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan kultur sekolah dapat bervariasi karena tidak ada model tunggal. Setiap sekolah memiliki tujuan umum pendidikan yang relatif (universal), namun sebagai sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur sekolah yang khas (unik) sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh institusi sekolah. Sub-kultur tersebut biasanya identik dengan kultur di masyarakat yang lebih luas. Dengan adanya variasi tersebut, setiap sekolah memiliki peluang untuk menjadi sekolah unggul, dengan keunggulan masing-masing yang khas. Setiap sekolah bahkan dapat saling mengisi secara kolaboratif, bukannya bersaing secara kompetitif. Semuanya kembali kepada bagaimana dan kemana pimpinan sekolah akan membawa dan mengarahkan sekolahnya. Karena pimpinan sekolah memiliki peran besar dalam membagikan nilai (shared values) dan mengkomunikasikan visi-misi sekolah kepada seluruh warga sekolah.

Baiklaah hanya ini yang dapat saya sampaikan dalam tulisan ini lebih kurang nya saya mohon maaf

Wassalamualaikum Wr Wb

Rabu, 14 April 2021

Perangkat Pembelajaran

Nama : Ahmad Aldi Yanto 

NIM : 11901295

Mata Kuliah : Magang 1

Kelas : 4C

Assalamualaikum wr.wb kembali bersama saya Ahmad Aldi Yanto yang mana sebelum nya saya membuat tulisan-tulisan di bloger ini,  dan hari ini kembali menulis lagi karena adanya tugas perkuliahan. 

Untuk kali ini saya akan menuliskan apa yang telah saya baca dari sebuah buku, journal dan e-book yang mana ini menyangkut tentang bagaimana menjadi seorang guru yang baik dalam menyampaikan semua pembelajaran yang mana seorang guru harus memiliki sebuah perangkat pembelajaran sebagai alat tempur untuk guru mengajar di kelas,  tentu pembahasan saya kali ini yaitu tentang "Perangkat Pembelajaran".

Apa sajakah macam-macam perangkat pembelajaran itu? Apa pentingnya perangkat pembelajaran? Sebelum melakukan dan melaksanakan mengajar para guru harus membuat dan memiliki perangkat pembelajaran. Berdasarkan Permendikbud No. 22 Tahun 2016 yang membahas tentang penyusunan perangkat pembelajaran dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan silabus yang berdasarkan standar isi. Dengan adanya perangkat ini menjadikan guru semakin bertambah profesional, guru akan terbantu dengan hal-hal yang terprogram. Macam-macam perangkat pembelajaran dibuat dengan lengkap agar bisa dijadikan referensi dalam merancang, melaksanakan, hingga mengevaluasi suatu pembelajaran yang matang.

Dari yang telah saya baca dapat saya ketahui bahwasanya perangkat pembelajaran adalah seperangkat media yang digunakan oleh guru untuk mengatur dan mengorganisir pembelajaran di kelas maupun di sekolah. Tujuan dari perangkat pembelajaran adalah untuk mencapai tujuan yaitu keberhasilan guru dalam memberikan pembelajaran. Dengan demikian perangkat pembelajaran merupakan salah perangkat dan sarana yang wajib dimiliki oleh setiap guru. Dari jenjang pendidikan prasekolah sampai dengan jenjang pendidikan menengah. 

Menurut yang saya baca, Suhadi,  (2007:24) berpendapat bahwasanya perangkat pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Dari uraian tersebut dapatlah dikemukakan bahwa perangkat pembelajaran adalah sekumpulan media atau sarana yang digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas, serangkaian perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan seorang guru dalam menghadapi pembelajaran di kelas.

Tidak sampai disitu, perangkat pembelajaran pun juga memiliki fungsi. Adapun fungsi dari perangkat pembelajaran yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai:

1. Menjadi pedoman dan petunjuk guru dalam kegiatan pembelajaran

2. Menjadi alat ukur keberhasilan pembelajaran

3. Menjadi sarana meningkatkan kinerja dan profesionalisme sebagai guru

4. Sebagai sarana guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas

Kembali ke pembahasan awal saya tadi yang mana saya telah membaca bahwasanya seorang guru harus memiliki perangkat pembelajaran sebagai alat tempur seorang guru untuk mengajar di dalam kelas. Berikut ini perangkat yang harus di miliki seorang guru antara lain : 

1. Silabus 

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.  Silabus memuat standar kompetensi,  kompetensi dasar, materi pokok atau pembelajaran, pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Elemen rinci silabus terdiri dari Batasan dan misi materi pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik, Tujuan dan Sasaran dari suatu materi pembelajaran, Keterampilan yang harus diraih oleh siswa pada setiap mata pelajaran yang disajikan, Rancangan poin konsep materi yang diberikan kepada siswa, Kegiatan dan referensi belajar yang menjadi penyokong kesuksesan dalam aktivitas pembelajaran, Cara evaluasi yang dipakai dalam pembelajaran.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran biasanya disingkat dengan RPP yaitu, Rencana seorang guru dalam mengajar dari menit pertama sampai menit akhir.

Di dalam membuat RPP haruslah dibuat denga sistematis dan terstruktur untuk memudahkan kita dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.

Menurut yang saya baca (Trianto, 2007) mengatakan  rencana pelaksanaan pembelajaran yaitu panduan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yang disusun dalam skenario kegiatan. Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun untuk setiap pertemuan yang terdiri dari tiga rencana pembelajaran, yang masing-masing dirancang untuk pertemuan selama 90 menit atau 135 menit.

3. Kalender Pendidikan
Kalender pendidikan adalah kalender yang digunakan oleh guru dalam menyusun program pembelajarannya. Di dalam kalender pendidikan memuat kalender masehi yang sering kita lihat. Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah atau madrasah Kalender Pendidikan di mulai pada bulan Juli sampai bulan Juni. dan bagi menjadi dua semester yaitu semester ganjil dan semester genap.

4. Jadwal Mengajar dan Jadwal Pelajaran
Selanjutnya yang harus disiapkan pada awal tahun pelajaran adalah jadwal mengajar guru. Jadwal mengajar diberikan oleh wakil kepala sekolah atau madrasah kepada setiap guru. Jadwal mengajar ini sangat penting karena selalu berhubungan dengan menghitung minggu efektif pembelajaran. Sedangkan jadwal pelajaran juga disiapkan agar guru bisa membandingkan apakah benar dan sesuai jadwal mengajarnya dengan jadwal pelajaran yang biasanya dibagikan di kelas-kelas.

5. Rincian Minggu Efektif
Rincian Minggu efektif merupakan perangkat pembelajaran yang tidak boleh ketinggalan, Ini merupakan kegiatan awal bagi guru-guru dalam merencanakan pembelajaran di kelas selama dua semester. Setelah kita memiliki kalender pendidikan kita harus menganalisis kalender pendidikan itu untuk diketahui berapa jumlah minggu efektif supaya program pembelajaran tepat sesuai rencana.

6. Program Tahunan
Program tahunan atau biasa disingkat prota yaitu program kegiatan yang disusun oleh guru dengan melihat kalender pendidikan dan silabusnya. Sesuai dengan namanya program tahunan merupakan program pembelajaran yang disusun oleh guru untuk satu pelajaran. Di dalam program tahunan terdapat KI (kompetensi Inti) dan KD (kompetensi Dasar). Kemudian memuat alokasi waktu. alokasi waktu ini diambil dari silabus.

7. Program Semester
Program semester (prosem) merupakan penjabaran dari program tahunan, jika program tahunan itu memuat program pembelajaran selama satu tahun, maka program semester memuat program pembelajaran selama satu semester. Program semester ini berbentuk kolom-kolom. Sebelumnya terdapat identitas seperti nama sekolah, kelas, semester dan tahun pelajaran. Kemudian di dalam kolom terdapat nomor, tema atau kompetensi dasar, jumlah jam, nama bulan dan pekannya.

8. Kriteria Ketuntasan Minimal
KKM (Kriteria ketuntasan minimal) adalah kriteria ketuntasan yang menjadi ambang batas ketuntasan yang harus dituntaskan oleh peserta didik. Jika peserta didik tidak tuntas maka harus diremedial dan jika peserta didik tuntas maka diberikan pengayaan. KKM selalu tidak terpisahkan dari perangkat pembelajaran. KKM digunakan untuk mengetahui ketuntasan setiap kompetensi dasar (KD) pada setiap mata pelajaran.

9. Daftar Penilaian Pembelajaran
Salah satu tugas guru adalah menilai. Karena tugasnya sebagai penilai maka perlu juga dipersiapkan lembar-lembar penilaian. Penilaian yang dikelola oleh seorang guru berupa:
a. penilaian harian
b. penialaian tugas
c. penilaian akhir semester ganjil
d. penilaian akhir semester genap
e.penilaian tersebut terdiri dari penilaian afektif, psikomotorik dan kognitif.

Tidak sampai di fungsi, tenyata ada juga manfaat perangkat pembelajaran bagi guru yang saya baca. Adapun manfaat perangkat pembelajaran bagi guru yaitu : 

1. Sebagai panduan
Perangkat pembelajaran adalah sebagai panduan atau pemberi arah bagi seorang guru. Hal tersebut penting karena proses pembelajaran adalah sesuatu yang sistematis dan terpola. Masih banyak guru yang hilang arah atau bingung ditengah-tengah proses pembelajaran hanya karena tidak memiliki perangkat pembelajaran. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran memberi panduan apa yang harus dilakukan seorang guru di dalam kelas. Selain itu, perangkat pembelajaran memberi panduan dalam mengembangkan teknik mengajar dan memberi panduan untuk merancang perangkat yang lebih baik.

2. Sebagai tolak ukur 
Seorang guru yang profesional tentu mengevaluasi setiap hasil mengajarnya. Begitu pula dengan perangkat pembelajaran. Guru dapat mengevaluasi diri nya sendiri sejauh mana perangkat pembelajaran yang telah dirancang teraplikasi di dalam kelas. Evaluasi tersebut penting untuk terus meningkatkan profesionalime seorang guru. Kegiatan evaluasi bisa dimulai dengan membandingkan dari berbagai aktivitas di kelas, strategi, metode atau bahkan langkah pembelajaran dengan data yang ada di perangkat pembelajaran.

3. Untuk Mempermudah
Perangkat pembelajaran mempermudah seorang guru dalam membantu proses fasilitasi pembelajaran. Dengan perangkat pembelajaran, seorang guru mudah menyampaikan materi hanya dengan melihat perangkatnya tanpa harus banyak berpikir dan mengingat.

4. Sebagai peninhkatan profesionalisme
Profesionalisme seorang guru dapat ditingkatkan dengan perangkat pembelajaran. Dengan kata lain, bahwa perangkat pembelajaran tidak hanya sebagai kelengkapan administrasi. tetapi juga sebagai media peningkatan profesionalisme. Seorang guru harus menggunakan dan mengembangkan perangkat pembelajarannya semaksimal mungkin. Memperbaiki segala yang terkait dengan proses pembelajaran lewat perangkatnya. Jika tidak demikian, maka kemampuan sang guru tidak akan berkembang bahkan mungkin menurun.

Perangkat pembelajaran juga dilengkapi dengan alat evaluasi berupa tes hasil belajar yang dapat digunakan untuk mengukur ketuntasan belajar siswa pada materi pokok Probability pada SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Tes hasil belajar yang baik, mencakup:

1) soal-soal yang disajikan sesuai dengan tujuan tes

2) soal-soal yang disajikan sesuai dengan pokok bahasan

3) batasan soal-soal dirumuskan dengan jelas

4) materi pembelajaran representatif

5) petunjuk mengerjakan soal dinyatakan dengan jelas

6) kalimat soal tidak menimbulkan penafsiran ganda

7) rumusan pertanyaan soal menggunakan kalimat tanya/perintah yang jelas

8) gambar, grafik, tabel, atau diagram terbaca dengan jelas

9) penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang benar

10) penggunaan bahasa, sederhana dan mudah dimengerti

11) penggunaan istilah yang dikenal siswadan 

12) waktu yang digunakan sesuai.

Demikian lah hanya ini yang dapat saya tuliskan dari apa yang telah saya baca,  insha allah jika masih di perkenankan untuk menulis maka tulisan selanjutnya akan menyusul ke materi dan pembahasan yang lebih menarik lagi untuk dibaca oleh teman-teman yang hobi membaca. 

Wallahumu'afiq ila aqwamithariq 

Wassalamualaikum wr.wb